//
you're reading...
Isa Almasih

YESUS SANG FIRMAN HIDUP: PEMAHAMAN TENTANG HAKIKAT YESUS

 
 Oleh Teguh Hindarto
Pribadi Yesus tetap kontroversi dan menjadi perdebatan yang tiada kunjung berhenti hingga kini. Sebagian orang mengimani dia sebagai nabi dan rasul sebagaimana nabi dan rasul-rasul terdahulu dengan membawa pesan dan mukjizat yang khas, sementara sebagaian yang lain memandang Dia lebih dari nabi dan rasul, Dia adalah Mesias, Putra Tuhan.
Akhir-akhir ini marak diterbitkannya buku-buku yang mempertanyakan baik historitas (kesejarahan) maupun divinitas (ketuhanan) Yahshua seperti diurai dalam beberapa buku sensasional al., DA VINCI CODE, GOSPEL OF JUDAS, JESUS DYNASTY, MISQUOTING JESUS, dll. Buku-buku tersebut mengatasnamakan keilmiahan, akademis namun menyembunyikan motifasi yang sebenarnya yaitu menolak essensi Kekristenan yang dilandaskan pada historitas dan divinitas Yesus Sang Mesias (Mat 16:16, 1 Kor 15:1-3).
Kajian berikut merupakan upaya ringkas memberikan pemahaman dari sudut pandang Semitik Hebraik yang menjadi nafas dari keseluruhan kajian dalam buku ini, tanp mengabaikan pendapat dan pemahaman berbagai gereja di wilayah barat dan teolog-teolog barat kontemporer. Pembahasan mengenai hakikat Yesus, lebih gamblng jika merujuk pada pemaparan Kitab Yohanes Pasal 1:1-18.
Hakikat Sang Firman
Yohanes 1: 1 dibuka dengan kalimat, “en arkhe en ho Logos” (Westcott and Hort New Testament) bereshit haya ha Davar, (Hebrew New Testament). Apa arti pernyataan tersebut? Logos, dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yohanes, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo[1].
·       Heraklitus (500 SM) mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. Daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal
·   Anaxagoras (400 SM) beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia.
·     Philo (20 SM-20 Ms) seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal elohim yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia.
Pendapat beberapa ahli mengenai penggunaan kata “Logos” dalam Kitab Perjanjian Baru sbb:
1.  “Rasul Yohanes tanpa ragu-ragu memakai kata Logos sebagai sarana untuk memperkenalkan Tuhan Yesus. Tetapi Logos yang di maksudkan oleh Yohanes tidak sama dengan Logos yang di artikan oleh orang lain”[2]. Selanjutnya Purnawan menambahkan, “Rasul Yohanes telah menyimak suasana pikiran zamannya, mengambil istilah yang umum di pakai dan tumpuan harapan orang sesamanya, serta memberi arti baru yang lebih dalam  sesuai dengan ilham Roh Kudus kepadanya”[3].
2.       Penggunaan Logos dalam Injil Yohanes di karenakan istilah itu sudah di kenal dalam lingkungan Yahudi dan Yunani, namun penggunaan Logos harus di mengerti latar belakangnya dalam penyataan Tuhan dalam Perjanjian Lama[4].
Jika ditinjau dari sudut pandang Hebraik atau akar Semitik naskah Yunani, maka kata Logos memiliki akar Semitiknya yang berasal dari penggunaan kata Davar. DR. David Stern mengulas sbb: “The language echoes the first sentence of Genesis…thus the TaNaKh lays the groundwork for Yochanan’s  statement that the Word was with God and was God’s “[5](bahasa tersebut menggemakan kalimat pertama dari Kitab Kejadian…sehingga TaNaKh meletakkan dasar bagi pernyataan Yohanes bahwa Sang Firman bersama Tuhan dan Firman adalah Tuhan).
Apa yang dikatakan Yohanes mengenai Sang Firman?
  1. Dia bersama Tuhan” (ay 1). Artinya, sang Firman berdiam dan sehakikat dengan Tuhan YHWH. Kata yang di terjemahkan “bersama dengan” adalah pros. Marcus Doods memberikan komentar mengenai penggunaan kata pros sbb : “pros, implies not merely existence alongside with but personal intercourse”[6]
  2. Dia adalah Tuhan” (ay 1). Artinya, sang Firman adalah manifestasi, ekspresi dari pikiran dan kehendak Tuhan. Dia adalah daya Kreatif, Daya Cipta yang menciptakan sesuatu menjadi ada dan bukan ciptaan.
  3. Dia menjadikan segala sesuatu” (ay 3). Artinya, dari segala yang ada dan hidup, Sang Firmanlah yang menyebabkan adanya sesuatu. Dalam Kitab Kejadian 1:3, 6, 9, 11, 14 ,20, 24, 26, 29, di tegaskan bahwa Firman “menjadikan segala sesuatu”, sebagaimana ungkapan “yehi wa yehi” (jadilah ada maka jadilah ada). Ungkapan tersebut sejajar dengan istilah Qur’an, kun fa yakun)
  4. Dia kekal” (ay 4). Artinya, Dia tidak akan mengalami kemusnahan atau eksistensi yang temporal. Dia adalah eternal. Pernyataan ini tersirat di balik istilah Yunani Zoe atau Ibrani Khayyang bermakna “kehidupan yang berkualitas kekekalan”.
Penjelasan Yohanes menggemakan kembali hakikat Sang Firman dalam TaNaKh sbb:
  1. Firman adalah Daya Cipta Tuhan
bi devar YHWH shamaym naasyu, ube ruakh piw, kal tsevaam” (Mzm 33:6) yang artinya, “Oleh Firman YHWH langit telah di buat dan oleh nafas dari mulut-Nya, terbentuklah semua tentara-Nya” (Mzm 33:6). Dalam Sefer Beresyit atau Kitab Kejadian, sebanyak 9 kali istilah “Amar” (Firman) di hubungkan dengan terjadinya ciptaan. Di tuliskan, “wayomer Elohim, ‘yehi wa yehi’, artinya, “jadi maka jadilah”.
  1. Firman adalah Utusan Tuhan
yislakh devaru we yirpaem…” (Mzm 107:20) artinya, “Dia mengutus Firman-Nya dan di sembuhkannya mereka” (Mzm 107:20)
  1. Firman adalah Pelaksana Kehendak Tuhan
“ken yihye devari asher yetse mipiy. Lo yashuv elay reqam. Ki imasha et asher khapatsti we hitsliyakh asher shelakhtiw”  (Yes 55:11) yang artinya, “demikianlah Dia, Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku tidak akan kembali kepada-Ku dengan kehampaan namun Dia akan melaksanakan dengan sempurna apa yang Aku inginkan dan akan memperoleh tujuan-Nya sebagaimana Aku mengutus-Nya” (Yes 55:11).
  1. Firman adalah Kehendak Tuhan yang di komunikasikan pada para nabi-Nya
wa yomer et YHWH el YesaYah..” (Yes 38:4) “Maka berfirmanlah YHWH kepada Yesaya..” (Yes 38:4).
Sehubungan dengan bunyi teks Kitab Yokhanan naskah Yunani, “kai Theos en ho Logos” (Yoh 1:1) ada beberapa terjemahan yang berbeda sesuai dengan asumsi masing-masing penerjemah. Dalam The New Testament in An Improved Version di terjemahkan demikian : “dan Firman itu adalah suatu (tuhan)”, 1808. Sementara The Emphatic Diaglot menerjemahkan, “dan suatu (tuhan) Firman itu”, 1864. Lalu La Bible du Centenaire L’Evangile selon Jean menerjemakan, “dan Firman itu adalah suatu pribadi tuhan”, 1928. Dan akhirnya The Bible An Ammerican Translation menerjemahkan, “dan Firman itu tuhan”, 1935[7]. Mengapa beberapa terjemahan di atas berbeda dengan terjemahan pada umumnya (dan Firman itu adalah Tuhan)? Donald Guthrie membahas kesalahpahaman banyak orang terhadap frasa naskah Yokhanan berbahasa Greek, sbb :  “Dalam Yohanes 1:1 dalam bahasa Yunani, kata Theos tidak mempunyai kata sandang, hal ini telah menyesatkan banyak orang yang berpikir bahwa pengertian yang benar dari pernyataan itu ialah, ‘Firman itu adalah seorang tuhan’, tetapi secara tata bahasa pengertian itu tidak dapat di pertahankan, karena kata Theos merupakan predikat. Tidak dapat di ragukan bahwa Yohanes  bermaksud agar para pembacanya mengerti bahwa Firman itu memiliki sifat (Ketuhanan), tetapi ia tidak bermaksud bahwa Firman dan Tuhan merupakan istilah yang sama artinya, karena pernyataan sebelumnya dengan jelas membedakan keduannya. Seharusnya pernyataan ini berarti bahwa walaupun Firman itu adalah Tuhan, namun pengertian tentang (Ketuhanan) mencakup lebih dari Firman…dengan beberapa kata ia telah memberi kesan mengenai sikap dan kedudukan Ketuhanan dari Firman yang selalu bersama-sama dengan (Tuhan)[8].
Sang Firman Menjadi Manusia
Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi daging  dan berkemah di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Putra Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran
Apa arti Sang Firman menjadi manusia? Bahwa Sang Firman BENAR-BENAR atau SEUTUHNYA menjadi manusia, takluk kepada tabiat alamiah kemanusiaan (lapar, haus, sedih, takut, marah, mati). Apa yang membedakan kemanusiaan Yesus dengan kemanusiaan pada umumnya?
  1. Yesus tidak berdosa, karena Dia dilahirkan bukan dari benih manusia melainkan Sang Firman yang menjadi manusia melalui kuasa Roh Kudus dengan meminjam rahim Miryam (Ibr 4:15)
  2. Yesus berkuasa atas maut (1 Kor 15:26)
Apakah karena Sang Firman itu adalah Tuhan, maka dapatkah dikatakan bahwa YHWH yang menjadi manusia? Sekalipun Firman adalah Tuhan, bukan berarti yang menjadi manusia adalah YHWH. Mengapa? Karena Sang Firman adalah Daya Cipta YHWH. Dia sehakikat dan setara serta melekat dalam kekekalan bersama  YHWH dan Roh-Nya (Kej 1:1-3). Sang Firman bukan keberadaan yang berbeda dengan YHWH namun juga bukan keberadaan yang sama begitu saja dengan YHWH. Meminjam terminologi Islam mengenai Tuhan dengan Sifat-Nya, digambarkan dengan istilah “Dzat” dan “Sifat”. Persamaan dalam bahasa Yunani, Ousia dan Hupostasis. Ahmad Daudy dalam “Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syekh Nuruddin Ar Raniry menjelaskan, “…qadimatun azaliyyatun, laisat hiya dzat wa laa hiya ghaairuhha” (sama-sama kadim, azali, tidak sama dengan Dzat Tuhan tetapi juga tidak berbeda dengan-Nya)[9] Yang menjadi manusia adalah Sang Firman (Sifat Tuhan) bukan YHWH itu sendiri (Dzat Tuhan).
Pemahaman di atas diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman dalam menalar Tuhan. Dengan penjelasan di atas, kita dapat memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap kasus-kasus berikut:
  1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya (Mat 26:36-46)
  2. Yesus berseru melepas nyawa-Nya kepada Bapa-Nya (Mat 27:45-46)
  3. Yesus di baptis di sungai Yordan dan ada realitas Bapa yang hadir dalam wujud suara, ada realitas Roh Kudus yang hadir dalam wujud burung merpati (Mat 3:13-17)
Peristiwa di atas dapat dijelaskan bahwa Yesus sebagai perwujudan Sang Firman (Sifat Tuhan), sepenuhnya, seutuhnya sebagai manusia yang berdoa kepada YHWH, Bapa-Nya yang berseru menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya, yang diteguhkan Keputraan-Nya oleh Bapa-Nya (Dzat Tuhan). Hampir semua buku kajian khususnya dari kaum Muslim, lebih menekankan sifat antropologis (kemanusiaan) dari Yesus, khususnya ketika mengutip dan membahas ayat-ayat di atas dan sejenisnya. Mereka gagal melihat sifat Keilahian dan memfokuskan diri pada sifat kemanusiaan dan menggunakan sifat kemanusiaan Yesus  untuk menolak, menyangkal sifat Ketuhanan Yesus sebagai Sang Firman Tuhan.
Bagaimana memahami Yohanes 14:9 yang menyatakan, “barangsiapa melihat Aku telah melihat Bapa?” Perkataan Mesias ini tidak memaksudkan bahwa diri-Nya adalah Sang Bapa, melainkan Yesus secara ontologis memiliki kesetaraan, kesehakikatan dengan Sang Bapa. Wujud kemanusiaan Yesus mengekspresikan kebagaimanaan Sang Bapa yang tidak nampak, melalui ajaran dan perilaku Yesus yang berlandaskan kasih, sehingga barangsiapa yang telah melihat Yesus, baik perkataan dan perilaku-Nya, secara tidak langsung telah melihat Bapa. Namun bukan berarti Yesus adalah Sang Bapa itu sendiri. Penjelasan ini dikuatkan dengan perkataan Yesus selanjutnya,  “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yokh 14:10).
Yohanes 8:42 memberikan penegasan mengenai kesehakikatan dan kesetaraan serta kemelekatan Sang Firman dan Sang Bapa, hingga dalam konteks sejarah penyelamatan, Sang Firman keluar dari Sang Bapa (Yoh 8:42). “keluar-Nya” Sang Firman dari Tuhan menunjukkan ada pembedaan antara Tuhan dan Sang Firman. Maka menyamakan begitu saja bahwa Firman menjadi manusia berarti YHWH menjadi manusia adalah kesalahan dalam menalar hubungan antara Dzat, Ousia, Essensi Tuhan dengan Sifat, Hupostasis, Energi Tuhan.
Paska Yesus naik ke Sorga dan sepeninggal para rasul, terjadilah perdebatan interpretasi mengenai hakikat Yesus Sang Mashiah. Pemicu terjadi konflik di karenakan gereja paska rasuli, mulai bersinggungan dengan alam pikir Helenis yang spekulatif dan rasional serta bergulat dengan ide-ide metafisika abstrak. Persinggungan ini terjadi sejak Abad II Ms sehingga terjadi perpindahan teologi Palestina yang kongkrit ke teologi Yunani yang abstrak[10]. Adapun konflik teologis yang terjadi, dapat di kelompokkan sbb :
Apakah “Logos”/”Davar” Sehakikat  dengan “Theos”/ “Tuhan”?
Pembahasan ini bermula dari pikiran Origenes yang menyatakan bahwa Yesus adalah manusia ciptaan dan mahluk separuh Tuhan. Pemikiran Origenes di teruskan oleh Presbyter Alexandria bernama Arius yang menyatakan bahwa Yesus lebih rendah hakikat dan kedudukan-Nya dengan Tuhan, bahkan Yesus adalah ciptaan yang sempurna dan di adopsi sebagai Putera-Nya oleh Tuhan serta di perlengkapi muzizat. Pendapat Arius di tentang oleh uskup Alexandria bernama Athanasius. Beliau berkeyakinan bahwa Sang Firman, yaitu Yesus adalah sehakikat dengan Tuhan. Yesus tidak di ciptakan, kekal dan Dia adalah Tuhan yang datang dalam rupa manusia. Pertikaian teologis antara Arius dan Athanisius di mulai th 318 Ms.
Pertikaian pendapat ini di selesaikan dalam forum Konsili Oikumenis I pada th 325 Ms di Nicea. Hasil Konsili ini menghasilkan suatu rumusan bahwa Sang Firman yaitu Yesus adalah sehakikat dengan Tuhan. Secara daging, di peranakkan namun tidak di ciptakan (bhs. Lat. Genetum Non Factum)[11].
Ketika Roh Kudus di persoalkan apakah Dia dari hakikat Tuhan atau bukan, maka di gelar Konsili Oikumenis II th 381 Ms di Konstantinopel dengan keputusan bahwa Roh Kudus itu sehakikat dan keluar dari Tuhan (Yoh 15:26), sebagaimana sang Firman keluar dari Tuhan (Yoh 8:42). Bahkan dalam konsili ini muncul suatu formula asal muasal istilah Tritunggal dengan rumusan dalam bahasa Yunani yang di kemukakan Tertulianus, “Una Substantia Tres Hypostasis” dan dalam bahasa Latin, “Mono Ousia Tres Persona” yang artinya “satu Hakikat Tiga Pribadi”[12]
Jika “Logos”/”Davar” Sehakikat Dengan “Theos”/”Tuhan”, Sejauhmanakah “Logos”/”Davar” menggunakan Tabiat Kemanusiaan? Bagaimanakah Hubungan Tabiat Kemanusiaan Dengan Tabiat Ketuhanan?
Apolinaris dari Laodikea mengemukakan pendapat bahwa Logos menjadi manusia, tetapi roh-Nya di gantikan dengan Roh Tuhan yaitu Logos itu sendiri. Pada th 428 Ms ajaran Apolinaris di kembangkan oleh Nestorius, Patriakh Konstantinopel. Ia berkeberatan dengan gelar Bunda Tuhan (Bhs. Yun. Theotokos/Bhs. Ing. The Mother of God) dan mengajarkan bahwa tubuh manusia Yesus adalah rumah bagi Sang Firman. Nestorius memisahkan tabiat Yesus antara yang manusia dan yang Tuhan, secara ekstrim.
Pengajaran Nestorius di tentang oleh Cyrilius, uskup dari Alexandria. Cyrillius menyetujui pemberian gelar Bunda Tuhan bagi Maria dan mengajarkan bahwa Sang Firman menyelubungi diri-Nya dengan tabiat manusia sehingga tubuh manusia yang kelihatan itu seperti nampak manusia sepurna namun sebenarnya hanyalah bayangan semata.
Pada Th. 431 Ms, diadakanlah Konsili Oikumenis III di Efesus dengan keputusan bahwa Maria di terima sebagai Bunda Tuhan. Namun keputusan tentang hakikat Yesus, antara perspektif Nestorius dan perspektif Cyrilius, belum terselesaikan. Bahkan pendapat Cyrilius di dukung oleh Euthyches dan Dioscorus yang mengatakan bahwa Sang Firman berinkarnasi menjadi manusia, hanya memiliki satu tabiat saja, yaitu tabiat yang diselimuti dengan tubuh semu atau bayangan[13].
Pada akhirnya, dipertemukanlah kelompok yang berpandangan saling bersebarangan ini dalam Konsili IV di Chalcedon, th 451 Ms yang merupakan suatu kompromi atau jalan tengah. Dalam konsili tersebut di putuskan sebuah pernyataan yang berada dalam “titik ketegangan” sbb :  “Tabiat Yesus antara yang manusia dan yang Tuhan, tidak bercampur (asunkhutos) dan tidak terpisah (atreptos). Pernyataan ini untuk menentang ajaran Monofisit dari Cyrilius dkk. Namun demikian serentak bahwa Tabiat Yesus tidak terbagi (adhikairetos) dan tidak terpisah (akhoristos). Pernyataan ini untuk menentang ajaran Duofisit Nestorius” [14].
Keputusan Konsili Chalcedon merupakan suatu keputusan yang berada dalam titik ketegangan dan tetap menggambarkan misteri hubungan yang Ilahi dan Manusiawi dalam diri Yesus. Keputusan Konsili tersebut cukup mewakili keterbatasan kemampuan manusia untuk menjelaskan misteri “kebagaimanaan” atau “relasi ontologi” antara Ketuhanan dan kemanusiaan Yesus.
Konsili Chalcedon dan konsili-konsili sebelumnya (Konsili Nicea, Konsili Konstantinopel) bukan “berupaya” untuk merumuskan suatu bentuk perkembangan evolutif kultus terhadap Yesus, sebagaimana sering di tuduhkan golongan teolog liberal yang pendapatnya selalu di kutip oleh kelompok Islam yang menyerang doktrin Kekristenan.
Konsili -konsili yang di adakan oleh pemerintahan Romawi maupun oleh Bapa-bapa Gereja (Church Father) adalah untuk menyelesaikan konflik interpretasi terhadap hakikat Yesus (yang Tuhan dan manusiawi). Hasil akhir keputusan dalam konsili bukanlah menetapkan posisi baru Yesus, dari manusia biasa lalu di kultuskan menjadi Tuhan, namun bentuk “kemenangan sejarah” terhadap eksistensi historis dan essensi Yesus sebagai Sang Firman Tuhan yang masuk dalam sejarah dan menjadi bagian dari sejarah manusia.
Menurut DR. Dieter Becker, bahwasanya keputusan Konsili ini sebenarnya hanya memuaskan pihak menengah, sehingga berdasarkan itu, Gereja Koptik di Mesir dan Gereja Nestorian di Syria memisahkan diri dari arus utama gereja[15] Gereja Nestorian berkembang di Persia, Tiongkok sementara Gereja Cyrilius berkembang di Mesir, Syria, Absynia, Armenia.
Sang Putra Menyatakan Sang Bapa Yang Tidak Nampak
Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Tuhan; tetapi Putra Tunggal Tuhan yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”. Tidak ada satupun yang pernah melihat Dzat, Ousia, Essensi YHWH, karena jika manusia melihat-Nya, akan mati terbakar. Manusia hanya melihat kemuliaan-Nya yang disimbolisasikan dengan kekuatan alam (Kel 19:16-17) maupun penampakkan tertentu (Kel 24:10).
Dzat, Ousia, Essensi YHWH itu dinampakkan kepada manusia melalui Firman-Nya yang menjadi manusia. Dengan menjadi manusia, Sang Firman yang adalah Daya Cipta dan Pikiran Tuhan, merefleksikan kehendak dan karakter Tuhan itu dalam perkataan dan perilaku Yesus. Kasih Tuhan menjadi hidup, kehendak-Nya menjadi jelas tidak abstrak.
Pernyataan ini menggemakan apa yang kelak diucapkan Yesus sendiri yaitu,“barangsiapa melihat Aku telah melihat Bapa’ (Yokh 14:9).

[1] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 363
[2] Apologetika Abad Pertama (Buletin “Sahabat Gembala”, Bandung, 1992, h.58
[3] Ibid.,
[4] STT I-3, Batu, Malang, Jatim, 1993, hal 13
[5] DR. David Stern., Jewish New Testament Commentary, JNTP 1992, p.153
[6] The Exspositor’s Greek Testament, Vol I, p. 684
[7] Watch Tower Bible And Tract Society of Pennsylvania, Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal ?, Brooklyn, new York, U.S.A, 1989, hal 27
[8] Op. Cit., Teologi Perjanjian Baru I, hal 371
[9] Bambang Noorsena, SH., Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, Yogyakarta: ANDI Offset, 2001, hal 24
[10] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, BPK Gunung Mulia, 1994, hal 51
[11] Harry R. Boer, A Short History of the Christian Church, Grand Rapids, Michigan, William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p. 165-175
[12] DR. Harun Hadiwyono, Apa & Siapakah Tuhan Allah, BPK Gunung Mulia, 1974, hal 50-51
[13] I.H. Berkhoff & H. J. Enklaar, Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia
[14] DR. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, Jakarta:BPK Gunung Mulia 1993, hal 117
[15] Op.Cit., Sejarah Gereja, hal 59

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: