//
you're reading...
Adopsi, Sejarah

“Jumatan” Sebelum Jaman Islam

 

 

 

Jika orang Yahudi berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan pada hari Sabat sebagai hari untuk memperingati saat Tuhan beristirahat setelah Ia menciptakan alam semesta, dan jika orang Kristen menghormati hari Minggu sebagai hari peringatan kebangkitan Yesus, mengapa (atas dasar apa) orang Muslim berkumpul pada hari Jumat?jumatan

 

Dalam Sura 62:9-11 kita membaca: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki”.

 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

 

Ayat-ayat ini dijelaskan oleh al-Baidawi sebagai berikut: “Disebut shalat Jumat karena orang-orang dikumpulkan pada hari itu untuk sholat. Orang Arab menyebutnya al-‘Aruba. Ada yang mengklaim bahwa Ka’b Ibn Lu’ay yang menyebutnya demikian, karena orang-orang biasa berkumpul di sekitarnya pada hari itu. “Jumatan” pertama dimana utusan Allah mengumpulkan orang untuk sholat adalah di Medinah setelah ia menghabiskan waktu seminggu di Duba’, yaitu di lembah milik klan Salim Ibn ‘Auf”.

 

Penulis Bulugh al-‘Arab fi Ahwal al-‘Arab mengatakan hal yang sama seperti di atas namun menambahkan bahwa Ka’b Ibn Lu’ay biasa berceramah kepada orang-orang pada hari itu (vol.1, h. 250). Oleh karena itu, kesakralan hari Jumat adalah tradisi pra Islam, yang ditetapkan oleh Ka’b Ibn Lu’ay, dan bukan karena wahyu Allah.

 

Dalam Al-Sira al-Nabawiya oleh Ibn Hisham (2:154) kita membaca: “Ketika Muhammad hijrah ke Medinah, orang-orang Muslim berkata kepadanya, ‘Orang Yahudi mempunyai hari Sabat sebagai hari untuk berkumpul, beribadah dan mendengar ceramah. Orang Kristen juga mempunyai hari untuk berkumpul, beribadah dan mendengarkan khotbah. Tetapi kita orang Muslim tidak mempunyai hari khusus dimana kita dapat berkumpul untuk beribadah kepada Allah seperti teladan Para Ahli Kitab’. Oleh karena itu, ia menyarankan hari Jumat kepada mereka”.

 

Jika orang Yahudi berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan pada hari Sabat sebagai hari untuk memperingati saat Tuhan beristirahat setelah Ia menciptakan alam semesta, dan jika orang Kristen menghormati hari Minggu sebagai hari peringatan kebangkitan Yesus, mengapa (atas dasar apa) orang Muslim berkumpul pada hari Jumat? Apakah mereka hanya ingin meniru Para Ahli Kitab? Sesungguhnya mereka telah salah memilih, karena mereka tidak memilih hari yang ditetapkan Allah tetapi memilih hari yang diperingati oleh orang-orang Arab sebelum jaman Islam.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: