//
you're reading...
Hukum

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Di dalam ayat-ayat tersebut ada isyarat jelas yang menunjukkan kasus-kasus ketika seorang Mukrnin terpaksa menempuh jalan yang disyariatkan ini dalam perjalanan hidupnya di tengah kondisi yang sulit. Guna melindungi diri, kehormatan, dan hartanya. Atau, untuk melindungi diri, kehormatan, dan harta orang yang ada hubungan dengannya

. Sebagaimana pernah ditempuh oleh kaum Mukmin dari keluarga Fir’aun untuk melindungi al-Kalim Musa as dari ancarnan pembunuhan. Hal itu juga pemah dilakukann ‘Ammar bin Yasir ketika ia ditawan dan diancam akan dibunuh. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunah. Yang jelas, kita harus mengenalnya, baik pengertian, tujuan, dalil, dan definisi maupun batasannya. Sehingga kita dapat menghindari sikap lalai dan berlebih-lebihan dalam melakukannya.

Taqiyah adalah isim dari kata ittaqa -yattaqi. Huruf ta’ pada kata itu menggantikan huruf waw. Asalnya adalah al-wiqayah. Dari situ, at-taqwa diartikan secara mutlak sebagai ketaatan kepada Allah. Sebab, orang yang taat menjadikannya sebagai perlindungan dari neraka dan siksaan. Maksud taqiyah itu adalah menjaga diri dari bahaya yang ditimpakan orang lain dengan menampakkan persetujuan kepadanya dalam ucapan atau perbuatan, yang bertentangan dengan kebenaran.

Pengertian Taqiyah

Jika kata at-taqiyyah itu diamhil dari kata al-wiqayah (perlindungan) dari kejahatan, pengertiannya dalam AI-Qur’an dan sunah adalah menampakkan (sikap) kekafiran dan menyembunyikan keimanan, atau memperlihatkan yang batil dan menyembunyikan yang benar. Apabila seperti itu pengertiannya, taqiyah berlawanan dengan kemunafikan seperti halnya keimanan berlawanan dengan kekafiran. Sebab, kemunafikan adalah lawannya. Kemunafikan adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, serta memperlihatkan yang benar dan menyembunyikan yang batil. Karena ada kontradiksi di antara arti kedua kata tersebut, maka taqiyah tidak dapat dipandang sebagai cabang dari kemunafikan.

Benar, barangsiapa yang menafsirkan kemunafikan itu sebagai mutlak pertentangan yang tampak terhadap yang tersembunyi, dan memandang taqiyah – yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah-sebagai salah satu cabanghya, ia telah menafsirkannya dengan pengertian yang lehih luas dari pengertian yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. la te1ah mendefinisikan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang menampakkan keimanan dan menyem- bunyikan kekafiran. Allah swt berfirman, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menge- tahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafzk itu benar-benar pendusta. ” (QS. al-Munafiqun [63]: 1)

Apabila demikian definisi munafik, lalu bagaimana hal itu dapat mericakup orang yang menempuh taqiyah dalam menghadapi orang-orang kafir dan ahli maksiat sehingga ia menyembunyikan keimanannya dan menampakkan sikap persetujuan untuk melindungi diri, harta, dan kehormatan ketika menghadapi ancaman.

Kebenarannya akan tampak jika kita mengetahui penggunaannya dalam syariat Islam. Kalau taqiyah itu merupakan bagian dari kemunafikan, tentu hal itu akan dicela dan mustahil Dzat Yang Maha bijaksana memerintahkannya. A1lah swt berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) pe buatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. al-A’raf [7]: 28)

Tujuan Taqiyah

Tujuan taqiyah adalah untuk melindungi diri, kehorrnatan, dan harta. Hal itu dilakukan dalam kondisi-kondisi terpaksa ketika seorang Mukmin tidak dapat menyatakan sikapnya yang benar secara terang-terangan karena takut hal itu akan mendatangkan bahaya dan bencana dari kekuatan yang lalim, seperti kebiasaan- kebiasaan pemerintahan yang suka melalimi, mengintimidasi, mengusir, membunuh, menyita harta, dan merampas hak. Karenanya, orang yang memegang teguh akidah, yang melihat dirinya terancam, tentu ia akan menyembunyikan akidahnya. la menampakkan sikap persetujuan terhadap keinginan dan kebijakan penguasa. Sehingga ia selamat dari ancaman dan pembunuhan hingga Allah memutuskan perkara yang lain.

Taqiyah adalah senjata orang yang lemah dalam mengahadapi kekuatan yang lalim, senjata orang yang diuji dengan tindakan orang yang tidak menghargai hak hidup, kehormatan, dan hartanya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena ia tidak sejalan dengannya dalam beberapa prinsip dan pendapatnya.

Taqiyah itu dipraktekkan oleh orang yang hidup dalam lingkungan yang tidak menerapkan kebebasan dalam berbicara, berbuat, berpendapat, dan berakidah. Orang yang menentangnya tidak akan selamat kecuali dengan sikap diam atau menampakkan persetujuan terhadap keinginan dan pemikiran penguasa. Atau, sebagian orang menggunakan taqiyah sebagai wahana yang harus ditempuh untuk menolong orang-orang lemah dan teraniaya yang tidak memiliki daya dan kekuatan. Maka mereka menampakkan sikap itu kepada penguasa yang lalim agar bisa berhubungan dengannya. Hal itu seperti yang dilakukan orang Mukmin dari keluarga Fir’aun yang dikisahkan Allah swt dalam Al-Qur’an.

Kebanyakan orang yang mencela orang-orang yang menempuh jalan taqiyah mengira bahwa tujuan taqiyah itu adalah untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia yang bertujuan membuat kerusakan dan kehancuran. Hal itu seperti yang dikenal di kalangan penganut kebatinan dan partai-partai komunis ilegal. Itu merupakan pandangan keliru yang mereka anut karena ketidaktahuan atau kesengajaan tanpa mendasarkan pendapat mereka ini pada suatu dalil atau hujah yang benar. Apa yang telah kami sebutkan berbeda dengan apa yang mereka sebutkan. Kalau kondisi memaksa dan hukum-hukum yang lalim tidak menyentuh kelompok yang lemah ini, tentu mereka tidak akan menempuh taqiyah. Tentu mereka tidak akan menanggung beban berat dengan menyembunyikan akidah mereka dan pasti mengajak orang-orang pada akidah itu secara terang-terangan dan tanpa keraguan. Namun, senjata selalu dihunus oleh semua pemerintahan yang lalim untuk ditebaskan kepada orang-orang yang memiliki akidah yang berbeda dengan akidah yang dianutnya. Praktek pertahanan seperti ini berbeda dari praktek-praktek yang dilakukan para anggota perkumpulan-perkumpulan rahasia untuk menjatuhkan dan merebut kendali pemerintahan. Maka semua praktek mereka ditetapkan dan diatur untuk tujuan penghancuran. Mereka adalah orang-orang yang menganut slogan “tujuan menghalalkan segala cara”. Semua yang jelek menurut akal dan terlarang menurut syariat dibolehkan oleh mereka untuk meraih tujuan-tujuan mereka yang destruktif. Ada pendapat yang memandang bahwa mereka sama saja dengan orang yang menempuh taqiyah sebagai senjata pertahanan agar selamat dari kejahatan pihak lain. Sehingga ia tidak dibunuh atau dibinasakan, harta dan rumah mereka tidak dirampas, hingga Allah memutuskan perkara yang lain. Namun, pendapat itu muncul dari perasaan yang berlawanan dari hal seperti itu. Kaum Muslim yang tinggal di Uni Soviet (dulu) telah mendapat bencana dan cobaan yang menurut akal tidak mungkin mereka dapat menanggungnya. Kaum komunis selama kekuasaan mereka atas wilayah-wilayah Islam telah menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslim. Mereka merampas harta, tanah, tempat tinggal, masjid, dan sekolah kaum Muslim, serta membakar perpustakaan-perpustakaan. Mereka membunuh banyak kaum Muslim dengan cara yang sangat keji. Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari kebiadaban mereka kecuali orang yang menempuh taqiyah dengan menampakkan sikap yang f1eksibel, menyembunyikan ritus-ritus agama, dan melaksanakan salat di dalam rumah hingga Allah menyelamatkan mereka dengan meruntuhkan kekuatan kafir tersebut. Maka kaum Muslim muncul kembali di atas pentas. Mereka menguasai tanah dan wilayah mereka. Mereka mulai menampakkan kembali kemuliaan dan keagungan mereka sedikit demi sedikit. Hal itu merupakan salah satu dari buah-buah taqiyah yang disyariatkan dan diperkenankan Allah SWT kepada para hamba-Nya sebagai anugerah dan kemuliaan-Nya kepada orang-orang yang tertindas.

Apabila demikian makna dan pengertian taqiyah, dan seperti itu maksud dan tujuannya, maka itu adalah sesuatu yang bersifat fitrah yang didambakan akal dan hati manusia sebelum segala sesuatu. Taqiyah mengajak manusia kepada fitrahnya. Untuk itu, taqiyah digunakan oleh orang yang diuji dengan tindakan penguasa dan pemerintahan yang tidak menghargai sesuatu apa pun selain ide, pemikiran, ambisi, dan kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak segan-segan untuk menimpakan bencana kepada setiap orang yang menentang mereka dalam hal itu. Mereka tidak membedakan antara Muslim-penganut Syi’ah ataupun Ahlusunah-dan selain Muslim. Dari sini, tampaklah fungsi dan faedah taqiyah.

Untuk mendukung prinsip kehidupan ini, kami mengkaji dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan sunah.

Dalil A1-Qur’an dan Sunah

Taqiyah disyariatkan dengan nas A1-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang akan kami coba menjelaskannya dalam halaman- halaman berikut:

Ayat pertama

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan ( dia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar: ” (QS. an-Nahl [16]: 106)

Anda perhatikan, bahwa A1lah SWT membolehkan sikap menampakkan kekafiran karena terpaksa dan menuruti orang-orang kafir karena takut kepada mereka. Namun, dengan syarat hati tetap tenang dalam keimanan. Hal itu dijelaskan oleh sejumlah mufasir baik klasik maupun kontemporer. Kami akan berusaha mengetengahkan pendapat-pendapat sebagian dari mereka untuk menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Bagi siapa yang ingin mengetahuinya lebih jauh, silakan merujuk pada beberapa kitab tafsir.

I. Ath- Thabrasi berkata, “Ayat itu turun berkenaan dengan sekelompok orang yang dipaksa untuk menjadi kafir. Mereka adalah ‘Ammar, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayah. Kedua orang tua ‘Ammar dibunuh karena mereka tidak menampakkan sikap kekafiran. Sedangkan ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki. Karenanya, mereka me- lepaskannya. Kemudian ‘Ammar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw, dan berita itu tersebar di tengah kaum Muslim. Maka orang-orang mengatakan bahwa ‘Ammar telah menjadi kafir. Tetapi Rasulullah saw menjawab, “Sama sekali tidak, ‘Ammar telah dipenuhi keimanan dari ubun-ubunnya hingga telapak kakinya. Keimanan itu telah bercampur dengan daging dan darahnya.”

Berkenaan dengan itu, turun ayat di atas dan. ‘Ammar pun menangis. Maka Rasulullah saw mengusap kedua matanya sambil bersabda, “Kalau mereka mengulangi tindakan serupa kepadamu, maka ulangilah apa yang engkau ucapkan itu.”

2. Az-Zamakhsyari berkata, “Diriwayatkan bahwa beberapa orang penduduk Makkah disiksa. Karenanya, mereka keluar dari Islam setelah mereka menganutnya. Di antara mereka ada yang dipaksa lalu kata-kata kekafiran mengalir pada lisannya, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Di antara mereka adalah ‘Ammar bin yasir dan kedua orang tuanya, yaitu yasir dan Sumayyah, serta Shuhaib, Bilal, dan Khabab.

Adapun ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki dengan lisannya secara terpaksa

3. AI-Hafizh bin Majah berkata: AI-Ita’ artinya al-i’tha’. Yaitu, mereka menampakkan persetujuan pada keinginan orang- orang musyrik itu sebagai sikap taqiyah. Taqiyah dalam hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah SWT, “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.

(QS. an-Nahl [16]: 106)

4. Al-Qurthubi berkata: Al-Hasan berkata, “Taqiyah itu dibolehkan bagi manusia hingga hari kiamat.” Para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa agar menjadi kafir sehingga ia takut dirinya akan dibunuh, ia tidak berdosa untuk menampakkan kekafiran tetapi hatinya tetap tenang dalam keimanan, ia tidak bercerai dari istrinya dan tidak dihukumi sebagai orang kafir. Ini adalah pendapat Malik. para ulama Kufah dan asy-Syafi’i.

5. Al-Khazin berkata: Taqiyah tidak dilakukan kecuali ketika ada ketakutan akan dibunuh dan dengan niat yang baik. Allah swt berfirman. “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.. (QS. an-Nahl [16]: 106). la tidak berdosa. karena tempat bagi keimanan ialah di dalam hati.

6. Al-Khathib asy-Syarbini berkata, kecuali orang-orang dipaksa kafir, yakni untuk mengucapkannya …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Tidak apa-apa ia melakukannya. karcna tempat keimanan adalah di dalam hati.

7. Isma’il Haqqi berkata: …kecuali orang yang dipaksa … la dipaksa untuk mengucapkan kata-kata itu karena takut akan ditimpakan sesuatu pada diri atau salah satu anggota tubuhnya. Sebab, kekafiran itu adalah keyakinan. Sedangkan pemaksaan untuk mengucapkan kata-kata itu bukan keyakinan. Jadi, makna ayat itu adalah “Akan tetapi, orang yang dipaksa terhadap kekafiran dengan lisannya”. …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …Akidahnya tidak berubah. Itu merupakan dalil bahwa keimanan yang benar dan diakui di sisi Allah adalah pembenaran (tashdiq) dengan hati.

Ayat kedua:

Allah swt berfirman, Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, Dan hanya kepada Allah kamu kembali. ” (QS. Ali ‘Imran [3]: 28)

Pendapat para mufasirtentang ayat ini sudah cukup jelas dan tidakmemerlukan penjelasan lagi.

I. Ath- Thabari berkata, “. ..kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. ” Abu al-‘A1iyah berkata, “Taqiyah itu dalam lisan, bukan dengan perbuatan.” Diriwayatkan dari al-Hasan: Saya mendengar Abu Mu’adz berkata: ‘Ubaid mengabarkan kepada kami. la berkata: Saya mendengar adh-Dhahak berkata tentang firman Allah, “kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka,” “Taqiyah dalam lisan adalah orang yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah. la mengucapkannya karena takut akan ditimpakan bahaya pada dirinya. “… padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …,maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya taqiyah itu dalam lisan.

2. Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan firman Allah SWT: … kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …berkata, “Yaitu keringanan bagi mereka di tengah muwaltat apabila takut kepada para penguasa mereka. Yang dimaksud dengan muwalat adalah perbedaan dan pergaulan secara lahiriah. Sedangkan hatinya teguh dalam permusuhan dan kebencian, dan menunggu hilangnya rintangan.

3. Ar-Razi, ketika menafsirkan firman Allah SWT: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …, berkata, “Masalah keempat Ketahuilah, bahwa taqiyah memiliki banyak ketentuan. Kami akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

a. Taqiyah hanya dilakukan apabila seseorang berada di tengah kaum yang kafir, dan ia takut mereka akan menimpakan bahaya terhadap diri dan hartanya. Maka ia bersikap halus kepada mereka dalam ucapan, yaitu tidak menampakkan permusuhan dalam ucapan. Bahkan ia juga boleh menampakkan ucapan yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan.

” Akan tetapi, dengan syarat menyembunyikan sikap sebaliknya dan mengingkari setiap kata yang diucapkannya. Taqiyah itu memiliki pengaruh pada lahir, bukan dalam keadaan- keadaan hati.

b. Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri. Apakah taqiyah juga boleh dilakukan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu diperbolehkan berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim adalah seperti kemuliaan darahnya. Juga sabdanya: “Barangsiapa yang terbunuh dalam membela hartanya, ia mati syahid.”

4. An-Nasafi berkata, “… kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ” Artinya, kecuali kamu takut terhadap kebijakan mereka sebagai sesuatu yang mendatangkan ketakutan. Yakni, agar orang kafir itu tidak memiliki kekuasaan atas dirimu. Sehingga engkau takut ia menimpakan bahaya kepada diri dan hartamu. Maka ketika itu, kamu boleh menampakkan kesetiaan dan menyembunyikan permusuhan.

5. Al-Alusi berkata: Dalam ayat itu terdapat dalil disyariatkannya taqiyah. Mereka mendefinisikannya sebagai memelihara diri, kehormatan, atau harta dari kejahatan musuh. Musuh itu ada dua bagian sebagai berikut:

a. Permusuhan yang didasarkan pada perbedaan agama, seperti orang kafir dan Muslim.

b. Pennusuhan yang didasarkan pada tujuan-tujuan keduniaan, seperti harta dan kekuasaan.

6. Jamaluddin al-Qasimi berkata: Terhadap ayat ini: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka … para imam (mazhab) menyimpulkan bahwa taqiyah disyariatkan ketika ada ketakutan. Ijmak tentang bolehnya melakukan taqiyah ketika takut telah dinukil oleh Imam al-Murtadha al-Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq.

7. Tentang ayat: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka , al-Maraghi menafsirkan, “Yakni, kaum Mukmin meninggalkan kesetiaan kepada orang-orang kafir merupakan suatu keharusan dalam setiap keadaan kecuali ketika takut mereka akan menimpakan suatu bahaya. Maka ketika itu, kamu boleh melakukan taqiyah rnenurut kadar ketakutan terhadap bahaya itu. Sebab, kaidah syariat rnengatakan, ‘Meninggalkan kerusakan lebih didahulukan daripada rnendatangkan kebaikan.”

Jika kesetiaan kepada mereka dibolehkan karena takut akan datang bahaya dari mereka. Maka lebih utama, jika hal itu untuk mendatangkan manfaat bagi kaum Muslim. Jadi, tidak ada salah- nya negara Muslim bersekutu dengan negara bukan Muslim untuk mendatangkan manfaat, baik dengan menolak bahaya atau mendatangkan manfaat. Kesetiaan itu bukan-dalam sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi kaum Muslim. Kesetiaan seperti itu tidak khusus dilakukan dalam keadaan lemah, melainkan juga boleh dilakukan dalam setiap saat.

Para ulama telah menarik kesimpulan dari ayat ini, bahwa boleh melakukan taqiyah. Yaitu, seseorang mengatakan atau melakukan apa yang bertentangan dengan kebenaran karena menghindari bahaya dari musuh yang akan ditimpakan kepada diri, kehormatan, atau hartanya.

Barangsiapa yang mengucapkan kata-kata kekafiran karena terpaksa untuk memelihara diri dari kematian, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan, ia tidak menjadi kafir. Melainkan ia dimaafkan, sebagaimana yang dilakukan ‘Ammar bin yasir ketika ia dipaksa oleh orang-orang Quraisy agar menjadi kafir. Maka ia melakukannya dengan terpaksa, sementara hatinya tetap dipenuhi keimanan. Berkenaan dengan itu, turunlah ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).

Kalimat-ka1imat dan ungkapan-ungkapan yang begitu jelas ini, tidak memberi peluang lagi untuk orang mengatakan kecuali menetapkan disyariatkannya taqiyah dalam pengertian yang telah Anda ketahui. Bahkan, seseorang tidak akan menemukan seorang mufasir atau ahli fiqih pun yang mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah merasa ragu dalam nenetapkan bolehnya taqiyah. Sebagaimana Anda, wahai pembaca yang mulia, tidak menemukan seseorang yang sadar tidak melakukan taqiyah dalam kondisi- kondisi sulit selama hal itu tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Hal itu akan saya jelaskan dalam penjelasan tentang batasan-batasan taqiyah.

Adapun orang yang menentang bolehnya taqiyah atau yang berlebih-lebihan dalam melakukannya, semata-mata menafsirkannya dengan taqiyah yang telah populer di kalangan anggota organisasi-organisasi bawah tanah dan aliran-aliran destruktif, seperti aliran kebatinan dan sebagainya. Padahal, seluruh kaum Muslim berlepas diri dari taqiyah yang bersifat destruktif seperti ini.

Ayat ketiga

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, apakah kamu akan membunuhseorang laki-laki karena dia mengatakan, “Tuhanku adalah Allah. Padahal, dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung ( dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar; niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta ,” (QS. al-Mu’min [40]: 28)

Sedangkan akibat dari perbuatannya itu adalah, “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikeu,ng oleh azab yang amat buruk. ” ( QS. al-Mu’min [ 40] : 45 )

Tiada lain, selain karena dengan taqiyah orang itu, Nabi A1lah itu dapat selamat dari kematian. Allah swt berfirrnan, “la berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Sebab itu, keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu. “, (QS. al-Qashash [28J: 20)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bolehnya taqiyah untuk menyelamatkan orang Mukmin dari kejahatan musuh yang kafir.

Taqiyah Muslim terhadap Muslim yang Lain dalam Kondisi Tertentu

Walaupun ayat-ayat di atas turun berkenaan dengan taqiyah orang Muslim terhadap orang kafir, namun pengertian ayat itu tidak dikhususkan dengan sebab turunnya. Sebab, bukanlah tujuan disyariatkannya taqiyah ketika mendapat ujian dengan tindakan orang-orang kafir kecuali untuk memelihara diri dari kejahatan. Jika seorang Muslim diuji dengan tindakan saudaranya sesama Muslim yang berbeda pendapat dalam beberapa furu’, dan pihak yang kuat tidak segan-segan menindas pihak yang lemah, seperti membunuh atau merampas hartanya, dalam kondisi-kondisi sempit itu akal sehat memutuskan untuk memelihara diri dengan menyembunyikan akidah dan menempuh taqiyah. Kalaupun dalam hal itu ada dosa, maka dosa itu adalah bagi orang yang kepadanya ditujukan taqiyah, bukan kepada orang yang melakukannya. Kalau kebebasan menjamin semua kelompok Islam, dan setiap kelompok menghargai pendapat kelompok lain karena mengetahui bahwa pendapat itu merupakan ijtihadnya, tentu tidak seorang pun dari kaum Muslim yang terpaksa untuk menempuh taqiyah. Pada gilirannya, keharmonisan akan menggantikan perselisihan.

Sebagian besar ulama memahami seperti itu dan menjelaskannya. Berikut ini penjelasan dari sebagian mereka:

I. Imam ar-Razi dalam menafsirkan firman Allah swt; …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …” mengatakan: Makna lahiriah ayat itu menunjukkan bahwa taqiyah hanya dibolehkan dilakukan terhadap orang-orang kafir yang merupakan mayoritas. Namun, Imam asy-Syafi’i ra berkata: “Jika keadaan di tengah sesama kaum Muslim sama dengan keadaan antara kaum Muslim dan kaum kafir, taqiyah itu dibolehkan untuk melindungi diri.” la mengatakan, “Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri.” Tetapi, apakah taqiyah juga dibolehkan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu dibolehkan berdasarkan sabda Rasulu1lah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim seperti kemuliaan darahnya.” Selain itu, beliau juga pernah bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, ia mati syahid.”

2. Jamaluddin al-Qasimi menukil hadis dari Imam Murtadha al- Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq. Teksnya sebagai berikut: “Bekal kebenaran yang samar dan tersembunyi ada dua hal. Pertama, ketakutan para arif-dengan jumlah mereka yang sedikit-kepada para ulama yang jahat dan penguasa yang lalim dengan bolehnya menempuh taqiyah dalam hal itu adalah disyariatkan dalam Al-Qur’an dan ijmak kaum Muslim. Hal itu selama ketakutan tersebut masih menjadi perintang untuk menampakkan kebenaran dan orang yang benar masih dipandang musuh oleh kebanyakan orang. Telah diriwayatkan hadis sahih dari Abu Hurairah ra bahwa-pada masa awal Islam-ia berkata, “Saya menjaga dua bejana dari Rasulullah saw. Yang pertama, saya sebarkan kepada orang-orang, sedangkan yang kedua,jika saya menyebarkannya, tentu tenggorokan ini akan terputus.”

3. Dalam menafsirkan ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemumaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan, ” al-Maraghi berkata, “Termasuk ke da1am taqiyah adalah menampakkan kekafiran, kelaliman, dan kefasikan, serta melembutkan perkataan, tersenyum, dan menyumbangkan harta kepada mereka. Niscaya ha1 itu dapat menahan tindakan keras mereka dan memelihara kehormatan dari tindakan mereka. Ha1 itu tidak termasuk da1am kesetiaan ( muwtilat) yang dilarang.

Bahkan hal itu disyariatkan. Ath- Thabrani telah meriwayatkan sabda Rasulullah saw: “Sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehormatan seorang Mukmin adalah sedekah.”

Kaum Syi’ah melakukan taqiyah terhadap orang-orang kafir dalam kondisi-kondisi tertentu untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang dilakukan kaum Ahlusunah. Selain itu, karena sebab- sebab yang jelas, seorang Syi’ah melakukan taqiyah kepada saudaranya yang Muslim. Hal itu bukan karena sikap melampaui batas pada orang Syi’ah, melainkan saudaranya yang memaksa ia melakukan hal itu. Sebab, ia menyadari bahwa pengusiran dan pembunuhan pasti ditimpakan kepadanya apabila ia menampakkan keyakinannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan akidah Islam. Memang, hingga saat ini, orang Syi ‘ah menghindari untuk mengatakan bahwa Allah itu tidak memiliki arah atau bahwa Dia tidak terlihat pada hari kiamat, serta dalam perujukan (marja’iyah) keilmuan dan politik adalah kepada ahlulbait sepeninggal Nabi saw atau bahwa hukum mut’ah tidak dihapus. Apabila orang Syi’ah menampakkan kebenaran-kebenaran ini- yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah-dirinya akan terancarn bencana danbahaya. Telah dikemukakan kepada Anda pendapat ar-Razi, Jamaluddin al-Qasimi, dan al-Maraghi yang begitu jelas tentang bolehnya melakukan taqiyah jenis ini. Maka mengkhususkan taqiyah dengan taqiyah terhadap orang kafir semata merupa- kan kejumudan terhadap makna lahiriah ayat, menutup pintu pemahamannya, penolakan terhadap substansinya yang telah disyariatkan untuk taqiyah, dan meniadakan hukum akal yang menetapkan untuk menjaga yang paling penting apabila tampak yang penting.

Sejarah kita mengemukakan tentang sejumlah pemuka kaum Muslim yang menempuh taqiyah dalam kondisi-kondisi sulit atau ketika kehidupan dan segala yang mereka miliki terancam kebinasaan. Contoh yang paling baik untuk itu adalah yang dikemukakan ath-Thabari dalam kitab tarikhnya (7/195-206) tentang usaha al-Ma’mun untuk memaksa para hakim dan ahli hadis di zamannya untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Se– hingga untuk itu mereka diancam akan dibunuh semuanya tanpa belas kasihan. Ketika para ahli hadis itu melihat pedang terhunus, mereka memenuhi keinginan al-Ma’mun dan menyembunyikan akidah mereka. Ketika mereka dicela karena berpendapat sesuai dengan keinginan al-Ma’mun, mereka membenarkan tindakan mereka dengan menganalogikannya pada perbuatan ‘Ammar bin yasir ketika dipaksa untuk menjadi musyrik sementara hatinya tenang dalam keimanan. Kisah ini sangat terkenal dan sangat jelas tentang bolehnya menempuh taqiyah yang mendorong sebagian orang menimpakan celaan kepada kaum Syi’ah. Seakan-akan mereka itu orang-orang yang mengada-adakannya dari pemikiran mereka sendiri tanpa dilandasi kaidah dan prinsip-prinsip Islam.

Kondisi-kondisi Sulit yang Dilalui Kaum Syi’ah yang mendorong kaum Syi’ah untuk melakukan taqiyah terhadap saudara mereka dan para penganut agama mereka hanyalah karena ketakutan terhadap kekuasaan yang tiran. Kalau dalam masa-masa lalu-dari masa dinasti Umayah, kemudian Abbasiyah dan Utsmaniyah-tidak ada tekanan terhadap kaum Syi’ah, serta negeri dan rumah mereka tidak dialiri darah mereka dan sejarah merupakan bukti paling baik untuk itu, maka adalah masuk akal kalau kaum Syi’ah melupakan kata taqiyah dan membuangnya dari catatan kehidupan mereka. Akan tetapi, sayang sekali, kebanyakan saudara mereka tunduk kepada kekuasaan Dinasti Umayah dan Abbasiyah yang memandang mazhab Syi’ah sebagai bahaya yang mengancam kedudukan mereka. Maka masyarakat Ahlusunah membangkitkan permusuhan terhadap kaum Syi ‘ah dengan membunuh dan mengintimidasi mereka. Oleh karena itu, sebagai akibat kondisi-kondisi sulit itu, kaum Syi’ah, bahkan setiap orang yang memiliki sedikit saja akal, tidak memiliki cara lain kecuali berlindung pada taqiyah atau mengangkat tangan dari prinsip-prinsip suci yang menurut mereka lebih berharga daripada diri dan harta.

“Bukti-bukti tentang hal itu lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Namun, kami akan membentangkan sebagiannya secara ringkas. Di antaranya, surat Mu’awiyah yang menghalalkan darah kaum Syi’ah di mana saja mereka berada dan bagaimanapun keadaan mereka. Berikut ini teks tentang peristiwa tersebut yang disebutkan dalam sumber-sumber rujukan untuk mengetahui bencana yang menimpa kaum Syi’ah.

Penjelasan Mu’awiyyah kepada para Pegawainya

Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Sayf al-Mada ‘ini meriwayatkan hadis dalam kitabnya al-Ahdats. la berkata, “Mu.awiyah menulis selembar surat kepada para pegawainya: ‘Batalkanlah jaminan terhadap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab dan ahlulbait- nya.’ Maka para khatib di setiap desa dan di atas setiap mimbar melaknat ‘ Ali dan berlepas diri darinya. Mereka mencacinya beserta ahlulbaitnya. Orang-orang yang mendapat bencana paling besar ketika itu adalah masyarakat Kufah, karena banyak di antara mereka yang menjadi pengikut ‘Ali as. Ziyad bin Sumayah diangkat menjadi gubernur Kufah yang telah digabungkan dengan Basrah. la mengetahui betul para pengikut Syi’ah karena ia adalah penduduk daerah itu pada masa kekhalifahan ‘Ali as. Maka ia membunuh mereka di bawah setiap batu dan lumpur, mengamcam mereka, memotong tangan dan kaki mereka, mencongkel mata mereka, menyalib mereka di pohon kurma, dan mengusir mereka dari lrak. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari mereka. Mu’awiyah mengirim surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah agar tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun pengikut ‘Ali dan ahlulbaitnya.”

Kemudian ia mengirim selembar surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah, “Perhatikanlah, barangsiapa yang terbukti bahwa ia mencintai ‘Ali dan ahlulbaitnya, maka hapuslah ia dari buku catatan (Baitul Mal), dan hentikanlah pemberian dan bagi- annya.” Hal itu ditegaskan dengan surat yang lain, “Siapa saja yang kalian duga setia kepada mereka, maka hukumlah dan hancurkan rumahnya.” Tidak ada bencana di lrak, terutama di Kufah. yang lebih besar daripada itu. Sehingga pengikut ‘Ali as didatangi oleh orang yang dipercayainya lalu menyampaikan rahasianya, tetapi ia sendiri takut kepada pelayan dan budak orang itu. la tidak menyampaikannya sebelum orang itu benar-benar bersumpah untuk merahasiakannya.

Ibn Abi al-Hadid menambahkan, “Hal itu terus berlangsung hingga al-Hasan bin ‘ Ali as Wafat. Maka bencana dan ujian semakin besar. Tidak tersisa seorang pun dari pihak ini kecuali terancam nyawanya atau diusir dari negerinya.

Kemudian bencana itu memuncak setelah al-Husain as wafat dan ‘Abd al-Malik bin Marwan menjadi khalifah. Maka semakin besar bencana yang ditimpakan kepada kaum Syi’ah. Ketika al- Hajjaj bin Yusuf berkuasa, para ulama mendekatinya dengan menampakkan kebencian kepada ‘ Ali dan kesetiaan kepada musuh- musuhnya serta kesetiaan kepada sebagian orang yang mengaku bahwa mereka pun adalah musuhnya. Para ulama itu membuat banyak riwayat tentang keutamaan mereka dan menyebarkan kebencian, cacian, dan celaan kepada ‘ Ali as. Sehingga ada seseorang yang berdiri di hadapan al-Hajjaj-dikatakan bahwa ia adalah kakeknya al-Ashma’i-, ‘Abd al-Malik bin Quraib bin Quraib. la berteriak, “Hai Amir, keluargaku sangat membenciku. Maka mereka menamaiku ‘ Ali. Aku ini seorang fakir. dan sangat berhajat pada hubungan dengan tuan.” Maka al-Hajjaj tertawa dan berkata, “Sungguh bagus caramu mencari perantara. Aku mengangkatmu untuk memimpin daerah anu.”

Akibatnya, kaum Syi’ah menyaksikan pembunuhan keji oleh para penguasa yang lalim. Maka ribuan di antara mereka terbunuh. Adapun sebagian dari mereka yang masih hidup diancam dengan berbagai bentuk ancaman dan teror. Yang pantas disebutkan, di antara hal-hal yang menakjubkan, kelompok ini dapat terus bertahan kendati menghadapi kelaliman yang besar dan pembunuhan yang keji. Bahkan yang sangat mengherankan, Anda mendapati kelompok ini terus bertambah kuat, dapat mendirikan pemerintahan, membangun peradaban, dan banyak dari mereka yang muncul sebagai ulama dan pakar.

Kalau saudara yang Sunni memandang taqiyah sebagai sesuatu yang haram, maka hilangkanlah tekanan terhadap sudaranya yang Syi’ah dan tidak mempersempit kebebasan yang diperkenankan Islam kepada para pemeluknya. Hendaklah diberikan kebebasan kepadanya dalam menjalankan akidah dan amalannya. Sebagaimana diberikan kebebasan kepada banyak orang yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunah, serta menumpahkan darah dan merampas tempat tinggal, apalagi kepada kelompok yang memeluk agama yang sama dan sepakat dengannya dalam banyak ajaran akidahnya. Kalau Mu’awiyyah dan para pembantunya serta Dinasti Abbasiyyah semuanya dianggap sebagai telah berijtihad dalam menyiksa dan menumpahkan darah orang-orang yang menentang mereka, maka apa yang menghalanginya untuk memberikan kebebasan kepada kaum Syi’ah dengan menganggap mereka telah berijtihad (dalam melakukan taqiyah-penj.).

Apabila mereka mengatakan-dan itu sesuatu yang aneh- bahwa orang-orang yang memberontak terhadap Imam ‘Ali as tidak merusak rasa keadilan orang-orang yang memberontak tersebut. Yang di antara pemukanya adalah Thalhah, az-Zubair, dan Ummul Mukininin ‘Aisyah. Dan bahwa tersebamya fitnah di Shiffin-yang berakhir dengan terbunuhnya banyak sahabat dan tabi’in serta tertumpahnya darah ribuan orang lrak dan Syam tidak mengurangi sedikit pun kewaraan orang-orang yang saling berperang itu. Bahkan setelah itu mereka dipandang sebagai mujtahid dan dimaafkan. Mereka memperoleh pahala orang yang berijtihad walaupun keliru dalam ijtihadnya. Maka mengapa mereka tidak bergaul dengan kaum Syi’ah berdasarkan prinsip ini dan berpendapat bahwa mereka itu dimaafkan dan memperoleh pahala?

Memang, taqiyah di kalangan kaum Syi’ah kadang-kadang meningkat intensitasnya dan kadang-kadang berkurang bergantung pada kuat dan lemahnya intimidasi (yang ditujukan kepada mereka). Terdapat perbedaan besar antara zaman al-Ma’mun yang membolehkan orang-orang memuji ahlulbait dan memuliakan kaum ‘Alawi, dan zaman al Mutawakkil yang memotong lidah orang- orang yang menyebut keutamaan mereka.

Inilah Ibn as-Sikkit, salah seorang sastrawan pada zaman al- Mutawakkil. Al-Mutawakkil telah memilihnya menjadi guru bagi kedua putranya. Pada suatu hari, al-Mutawakkil bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau cintai, kedua putraku atau al-Hasan dan al-Husain? ‘Ibn as-Sikkit menjawab, “Demi Allah, Qanbar, pelayan ‘Ali as lebih baik daripadamu dan kedua putramu”. Maka al-Mutawakkil berkata (kepada para pengawalnya) , “Potonglah lidahnya dari tengkuknya”. Kemudian mereka melakukannya hingga sastrawan wafat. Peristiwa itu terjadi pada malam Senin tanggal 5 Rajab 244 H. Ada juga yang mengatakan, tahun 243 H. Ketika itu umurya 28 tahun. Ketika ibn as-Sikkit wafat, al-Mutawakkil mengirimkan uang sepuluh ribu dirham kepada putra Ibn as-Sikkit, Yusuf. la mengatakan. “Ini adalah diyat (denda) atas kematian ayahmu”

Ibn ar-Rumi. seorang penyair ‘Abqari, dalam qashidahnya yang berisi ratapan (ratsa), atas kematian Yahya bin ‘Umar bin al-Husain bin Zaid bin ‘Ali. mengatakan:

Apakah di setiap waktu ada korban suci dari keluarga Nabi Muhammad yang gugur berlumuran darah

Wahai Bani Muhammad, berapa banyak sudah manusia memangsa jasadmu

Sabarlah, tak lama lagi akan datang penolong untuk musibahmu Apakah setelah Husain menjadi syahid pelita-pelita di langit

masih akan bercahaya terang dan memberi petunjuk?

Jika demikian keadaan keturunan Nabi saw, maka bagaimana halnya dengan para pengikut mereka dan orang-orang menapaki jejak-jejak mereka?

Allamah asy-Syahristani berkata, “Taqiyah adalah syiar setiap orang yang lemah dan terampas kebebasannya. Syi’ah lebih terkenal akan taqiyahnya daripada yang lain. Sebab, Syi’ah terus-menerus diuji dengan tekanan yang lebih besar daripada tekanan yang ditimpakan kepada umat yang lain. Kebebasannya dirampas pada seluruh masa Daulah Umayah, sepanjang masa Dinasti Abbasiyah, dan selama beberapa masa Daulah Utsmaniyah. Oleh karena itu, mereka menyiarkan taqiyah lebih gencar daripada yang dilakukan kaum yang lain. Ketika Syi ‘ah berbeda dari kelompok-kelompok yang bertentangan dengannya dalam bagian penting akidah, ushuluddin, dan banyak hukum-hukum fiqih, perbedaan itu secara alami memunculkan pengawasan (dari pihak musuh-penj.). Pengalaman membenarkan ha1 itu. Oleh karena itu, pengikut para imam ahlulbait selama waktu yang lama terpaksa me- nyembunyikan tradisi, akidah, fatwa, kitab, atau yang lainnya yang berbeda dengan kelompok yang lain. Dengan cara ini mereka melindungi diri dan memelihara kecintaan dan persaudaraan dengan saudara-saudara sesama kaum Muslim, agar tonggak ketaatan tidak patah dan agar orang-orang kafir tidak merasakan adanya perbedaan apa pun dalam masyarakat Islam sehingga mereka memperlebar jurang perbedaan itu di tengah umat Muhammad.

Untuk tujuan-tujuan suci ini, Syi’ah menggunakan taqiyah dan memelihara persetujuannya secara lahiriah dengan kelompok-kelompok lain. Dalam hal itu mereka mengikuti perilaku para imam dari keluarga Muhammad dan hukum-hukum mereka yang teguh tentang wajibnya taqiyah, karena “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku”. Sebab, agama Allah berja1an di atas sunnah taqiyah bagi orang-orang yang terampas kebebasannya. Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari orang-orang terpercaya dari ahlulbait as dalam atsar yang sahih: “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku” Barangsiapa yang tidak bertaqiyah, tidak ada agama baginya.”

Taqiyah, merupakan syiar ahlulbait as untuk menolak bahaya dari mereka dan para pengikut mereka, dan melindungi darah mereka. Selain itu, taqiyah dilakukan untuk memperbaiki keadaan kaum Muslim, berpartisipasi dengan mereka, dan menyatukan kembali mereka. Hal itu senantiasa menjadi tanda yang dikenal Syi’ah Imamiyah yang berbeda dari kelompok-kelompok dan umat-umat lainnya. Jika setiap orang merasakan adanya bahaya atas diri atau hartanya disebabkan tersebar keyakinannya atau ia menampakkannya, ia harus menyembunyikannya dan melakukan taqiyah pada tempat-tempat yang berbahaya itu. Ini sesuatu yang dituntut fitrah dan akal.

Seperti telah diketahui, Syi’ah Imamiyah dan para imam mereka menghadapi berbagai bentuk ujian dan perampasan kebebasan dalam semua generasi yang tidak dialami oleh kelompok atau umat mana pun. Pada sebagian besar generasi, mereka terpaksa melakukan taqiyah dalam pergaulan mereka dengan orang-orang yang menentang mereka, tidak menampakkan keyakinan, serta menyembunyikan akidah dan arna1an mereka yang berbeda dengan orang lain. Sebab, jika tidak demikian, niscaya bahaya menimpa mereka di dunia ini.

Untuk a1asan ini, mereka dikena1 dan dibedakan dari kelompok lain dengan taqiyah.

Taqiyah memiliki beberapa ketentuan dalam hal wajib dan tidak wajibnya berdasarkan tingkat ketakutan akan bahaya. Perinciannya disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Batasan Taqiyah

Anda telah mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah serta dalilnya. Kini akan dijelaskan batasan-batasannya.

Syi’ah dikenal dengan taqiyah. Mereka melakukan taqiyah dalam ucapan dan perbuatan. Maka hal itu menjadi sumber kebingungan dalam benak orang-orang bodoh. Mereka mengatakan bahwa karena taqiyah termasuk prinsip-prinsip ajaran Syi’ah, maka tidak boleh bersandar pada semua yang mereka ucapkan, mereka tulis, dan mereka sebarkan. Sebab, sangat mungkin tulisan- tulisan itu merupakan pengakuan belaka, sedangkan kenyataannya adalah sesuatu yang lain. Inilah yang berulang-ulang kami dengar dari mereka.

Akan tetapi, kami mengajak pembaca yang mulia melihat bahwa taqiyah hanya dilakukan dalam batasan masalah-masalah pribadi dan bersifat parsial ketika merasakan ketakutan atas diri. Jika alasan-alasan menunjukkan bahwa dalam menampakkan akidah atau mempraktekkan amalan menurut mazhab ahlulbait kemungkinan akan mendatangkan bahaya kepada seorang Mukmin, inilah salah satu kasusnya. Akal dan syariat menetapkan keharus- an melakukan taqiyah sehingga hal itu akan melindungi dirinya dari bahaya. Adapun hal-hal yang bersifat universal yang berada di luar lingkup ketakutan, maka tidakdilakukan taqiyah. Tulisan-tulisan yang tersebar tentang Syi’ah termasuk dalam bentuk terakhir ini. Sebab, dalam hal itu tidak ada ketakutan untuk menulis sesuatu yang berteniangan dengan yang diyakini. Padahal, tidak ada keharusan (melakukan taqiyah) sama sekali dalam hal ini se- hingga ia diam dan tidak menulis apa pun.

Apa yang mereka dakwakan bahwa tulisan-tulisan itu merupakan pengakuan belaka yang tidak berdasar adalah bersumber dari sedikitnya pengetahuan mereka terhadap hakikat taqiyah menurut Syi’ah. Alhasil, Syi’ah hanya melakukan taqiyah pada suatu masa ketika tidak memeliki pemerintahan yang melindungi mereka dan tidak ada kekuatan untuk menolak bahaya dari mereka. Adapun pada masa kini, tidak diperkenankan dan tidak dibenarkan me- lakukan taqiyah dalam kasus-kasus khusus.

Syi ‘ah, seperti yang telah kami sebutkan, tidak berlindung pada taqiyah kecuali setelah terpaksa untuk melakukan hal itu. ltulah yang benar. Saya tidak yakin ada seorang pun yang melihat permasalahan-permasalahan tersebut dengan akalnya, bukan dengan emosinya, akan menentang hal itu. Kecuali, di antara hal- hal yang bisa diterima dalam sejarah kesyiahan, ada pembatasan taqiyah dalam fatwa-fatwa; Taqiyah tidak diterjemahkan ke dalam praktek kecuali sedikit sekali. Bahkan secara praktis, mereka lebih banyak berkorban daripada orang lain. Hendaknya setiap peneliti melihat sikap-sikap para pengikut Syi’ah terhadap Mu’awiyah dan penguasa Dinasti Umayah lainnya, serta para penguasa Dinasti Abbasiyah. Mereka itu seperti Hujur bin’ Adi, Maitsam at- Tammar, Rasyid al-Hijri, Kumail bin Ziyad, dan ratusan orang lainnya, juga seperti sikap-sikap kaum ‘ Alawi sepanjang sejarah dan revolusi mereka yang berkesinambungan.

Taqiyah yang Haram

Berdasarkan hukumnya, taqiyah dibagi menjadi lima bagian. Sebagaimana wajib untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan harta, taqiyah juga haram dilakukan apabila akan menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti hancumya agama, tersembunyinya kebenaran bagi generasi-generasi selanjutnya, penguasaan musuh terhadap urusan, kehormatan, dan tempat-tempat per- ibadatan kaum Muslim. Oleh karena itu, Anda melihat bahwa kebanyakan pemuka Syi’ah menolak melakukan taqiyah dalam beberapa masa. Mereka mempersembahkan jiwa dan raga mereka sebagai korban untuk kepentingan agama. Maka taqiyah itu me- miliki tempat-tempat tertentu. Selain itu, taqiyah yang diharamkan juga memiliki tempat-tempat tertentu.

Pada dasamya, taqiyah adalah menyembunyikan sesuatu yang berbahaya untuk ditampakkan hingga hilang bahaya tersebut. la merupakan jalan paling utama untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kaum Syi’ah itu pengecut, hilang kekuatan, penakut, ragu untuk melangkah, dan penuh kehinaan. Sama sekali tidak. Taqiyah itu memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Sebagaimana ia wajib dalam suatu masa, ia pun haram pada masa yang lain. Dalam hal dibolehkan dan dilarang, taqiyah tidak didasarkan pada kekuatan dan kelemahan, melainkan didasarkan pada kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Imam Khomeini as pemah berkomentar tentang hal ini. Kami nukilkan teksnya hingga pembaca mengetahui bahwa taqiyah memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan kadang-kadang dilarang dilakukan untuk kepentingan yang lebih agung. Imam Khomeini a.s. berkata, “Taqiyah diharamkan dalam beberapa larangan dan kewajiban-kewajiban yang dalam pandangan Pembuat syariat menempati kedudukan yang tinggi, seperti penghancuran Ka’bah dan kuburan-kuburan suci, penolakan terhadap Islam dan Al-Qur’an, penafsiran yang dilakukan suatu mazhab yang sesuai dengan ateisme dan larang-larangan utama lainnya. Hal itu tidak dapat dijadikan dalil dan bukan suatu bentuk keterpaksaan untuk melakukan taqiyah.

Hal itu ditunjukkan da1am Mu’tabarah Mus’addah bin Shidqah. Di situ dikatakan, “Setiap sesuatu yang dilakukan seorang Mukmin di tengah mereka, padahal seharusnya ia melakukan taqiyah, selama tidak menimbulkan kerusakan dalam agama, maka itu boleh.”

Dari pengertian ini, jika orang yang melakukan taqiyah itu termasuk orang-orang yang memiliki kedudukan dan kepentingan di mata manusia, padahal melakukan beberapa perbuatan yang haram atau meninggalkan kewajiban dipandang sebagai melemah- kan mazhab atau merusak kemuliaannya, seperti dipaksa me- minum khamar dan berzina, maka bolehnya taqiyah dalam hal ini berdasarkan ketentuan dalil ar-raf dan dalil-dalil taqiyah adalah sulit, bahkan dilarang. Yang paling utama dari itu semua adalah tidak membolehkan taqiyah. Kalau salah satu prinsip Islam atau mazhab, atau salah satu kewajiban agama terancam hilang, rusak, dan berubah, seperti kalau orang-orang yang menyimpang hendak mengubah hukum-hukum waris, talak, salat, haji, dan prinsip-prinsip hukum lainnya, apalagi dari prinsip-prinsip agama atau mazhab, maka taqiyah dalam kasus seperti itu tidak diper- bolehkan. Kepentingan disyariatkannya taqiyah adalah agar mazhab tetap utuh, prinsip-prinsip tetap terpelihara, dan kesatuan kaum Muslim untuk menegakkan agama dan prinsip-prinsipnya. Apabila agama dan prinsip-prinsipnya terancam kerusakan, maka tidak boleh bertaqiyah. Hal itu tampak dengan jelas dari penjelasan di atas.

Demikianlah, telah kami jelaskan seluruh aspek taqiyah yang hakiki dan sebenamya. Dari uraian itu, kami simpulkan sebagao berikut:

1. Taqiyah merupakan prinsip Al-Qur’an yang didukung oleh sunah Nabi saw. Taqiyah telah dilakukan pada masa risalah oleh orang menghadapi ujian di kalangan sahabat untuk me- melihara dirinya. Rasulullah saw tidak menentangnya, bahkan menegaskannya dengan nas Al-Qur’an, seperti yang menimpa ‘Ammar bin yasir yang diperintah oleh Rasulullah saw untuk mengulanginya jika orang-orang musyrik itu memaksanya lagi agar menjadi kafir.

2. Taqiyah dalam pengertian pembentukan kelompok-kelompok rahasia untuk tujuan-tujuan destruktif ditolak oleh kaum Muslim pada umumnya, dan khususnya Syi’ah. Hal itu tidak ada hubungannya dengan taqiyah yang dianut kaum Syi .ah.

3. Para mufasir, dalam kitab-kitab tafsir mereka, ketika menafsikan ayat-ayat yang berkenaan dengan taqiyah, sepakat dengan apa yang dianut Syi’ah tentang bolehnya taqiyah.

4. Taqiyah tidak khusus dilakukan terhadap orang kafir, melainkan juga secara umum dilakukan terhadap orang Muslim yang menyimpang yang ingin berbuat jahat dan keji kepada saudaranya.

5. Berdasarkan pembagian hukum-hukumnya, taqiyah terbagi ke dalam lima bagian. Di antaranya, taqiyah itu wajib dalam kasus tertentu dan haram dalam kasus yang lain.

6. Lingkup taqiyah tidak melewati masalah~masalah individual, yaitu apabila dirasakan ada ketakutan. Namun, jika ketakutan dan tekanan itu hilang, tidak ada alasan untuk melakukan taqiyah.

Penutup

Kami asumsikan bahwa taqiyah merupakan tindak kejahatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan hartanya. Akan tetapi, pada hakikatnya, hal itu kembali pada kondisi yang mengharuskan seorang Syi’ah yang Muslim melakukan taqiyah dan mendorongnya menampakkan sesuatu dalam ucapan dan perbuatan yang tidak diyakininya. Maka bagi orang yang mencela taqiyah terhadap sesama Muslim yang tertindas hendaklah memberikan kebebasan kepada orang itu dalam kehidupan dan membiarkannya di dalam keadaannya. Setidaknya yang dapat dibenarkan akal adalah menanyakan kepadanya tentang dalil akidahnya dan sumber pengamalannya. Jika didasarkan pada hujah yang jelas, ikutilah. Namun, jika sebaliknya, maafkanlah ia dalam mengikuti ijtihad dan jihad ilmiahnya.

Kami mengajak kaum Muslim untuk memperhatikan motif-motif yang mendorong kaum Syi’ah melakukan taqiyah. Hendaklah mereka, sedapat mungkin, memberikan keleluasaan kepada saudara mereka seagama. Karena setiap ahli fiqih Muslim memiliki pendapat dan pandangan serta kesungguhan dan kemampuan- nya sendiri.

Kaum Syi’ah mengikuti jejak para imam ahlulbait dalam akidah dan syariat; meriwayatkan pendapat mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang dihilangkan oleh Allah kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya dan salah satu dari tsaqalain yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah dan syariat. Inilah akidah mereka yang dapat diketahui oleh siapa saja. Itulah hujah bagi semuanya.

Kami memohon kepada Allah swt agar memelihara darah dan kehormatan kaum Muslim dari gangguan orang-orang yang menyimpang; menyatukan barisan mereka; menyatukan hati mereka; menyatukan kembali mereka; dan menjadikan mereka satu barisan dalam menghadapi musuh. Sesungguhnya atas semua itu Dia Mahakuasa dan Mahapantas mengabulkan doa

.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam “Hayat Muhammad”]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
[“Maqaalaat Islamiyyin”, jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab “Asy-Syi’ah Fi Maukibi At-Tarikh”, dikeluarkan oleh “Mu’awaniyyah Syu’un At-Ta’lim Wa Al-Bahuts”]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam “Milal Wan Nihal”, hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam “Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal”, jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini[90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:’Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,’Ya’. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:’Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci’. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca’Bismillah’ dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau – Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: