//
you're reading...
Apologetik, Isa Almasih

YESUS POLIGAMI ? [Tanggapan Terhadap DR. Sanihu Munir]

Telah beredar dengan bebas VCD berjudul “Yesus Ternyata Poligami”. Di terbitkan atas kerjasama antara Gerakan Muslimat Indonesia dan Yayasan Mitra Center Pusat Kendari serta Ar Rahman Channel. Dalam tayangan tersebut menampilkan Nouva Nursari sebagai pewawancara dan DR. Sanihu Munir sebagai nara sumber. Kegiatan tersebut berlangsung di tengah-tengah kesibukan acara di Islamic Book Fair Jakarta Convention Centre [tidak disebutkan tahunnya].

Dalam tayangan tersebut ada sejumlah pernyataan provokatif dan menyesatkan, yang di buat oleh DR. Sanihu, bahwa Yahshua [Yesus] ternyata memiliki sejumlah istri-istri. Pernyataannya tersebut di dasarkan pada rujukan tunggal buku Barbara Thiering [tidak di sebutkan judulnya. Namun mendengar materi yang disingung, nampaknya buku tersebut berjudul, The Qumran Origins of the Christian Church, 1983].Kajian tersebut, menurut pewawancara pernah di muat dalam Tabloid MODUS Vol I..

Berikut saya ringkaskan pernyataan dan argumentasi DR. Sanihu, dengan mengadaptasi rulisan Barbara Thiering. Saya tidak akan menanggapi persoalan lainnya dalam VCD tersebut supaya terjadi pembahasan yang terfokus.

Bukti-bukti bahwa Yahshua[Yesus] adalah poligami di dukung baik oleh Qur’an maupun Injil dan naskah-naskah Laut Mati [Dead Sea Scroll] :

  1. Dalam Qs 13 [Ar Raad] :38 di sebutkan, “Dan sesunguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada merea istri-istri dan keturunan”Komentar DR. Sanihu : Umat Muslim terlalu terpengaruh kekristenan secara general bahwa Nabi Isa atau Yesus, tidak memiliki istri. Namun ayat ini memberikan isyarat signifikan bahwa nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum Muhamad, memiliki istri, termasuk Nabi Isa. Jika umat Muslim mempercayai Qur’an sebagai Firman Allah, seharusnya mereka mempercayai ayat ini.
  2. Dalam Markus 14:3 di sebutkan, “Ketika Yahshua berada di Betania, di rumah Simon si Kusta dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah di pecahkannya leher buli-buli itu, di curahkannya minyak itu keatas kepala Yahshua”. Dan dalam Lukas 7:37 di sebutkan, “Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yahshua sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis, ia pergi berdiri di belakang Yahshua dekat kaki-Nya lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya degan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyaki-Nya dengan minyak wangi itu”Komentar DR. Sanihu : Peristiwa di basuhnya kaki Yesus oleh “Maria Magdalena”, merupakan peristiwa pernikahan bangsawan Yahudi. Dalam Kidung Agung 1:2-3 di katakan, “-Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu”. Peristiwa “Maria Magdalena” mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi, merupakan peristiwa pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 22 September [Jum’at] 30 Ms, pk 18.00 di Ain Faskha.Ini merupakan kawin gantung. Resepsinya sendiri terjadi pada tanggal 19 Maret 33 Ms jam 24.oo di Ein Faskha, berdasarkan data yang terekam dalam Yohanes 12:3 sbb :”Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yahshua dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu”. Adapun pernikahan Yesus yang kedua terjadi dengan Lydia. Pernikahan kedua ini terjadi tgl 17 Maret 50 Ms
  3. Dalam Kisah Rasul 6:7 di sebutkan, “Firman Elohim makin tersebar dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”.Komentar DR. Sanihu : Pada tanggal 14 Juli 37 Ms, lahirlah anak Yesus bernama Yesus Yustus. Yesus adalah Firman Tuhan. Menurut Kisah Rasul 6:7, Firman Tuhan itu tersebar. Artinya lahir keturunan Sang Firman, yaitu Yesus. Dan akhirnya tgl 10 April 44 Ms, lahirlah anak Yesus yang ketiga [tidak disebutkan namanya]. Informasi bahwa Maria adalah istri Yesus juga di benarkan menurut Injil Gnostik Filipus.

Tanggapan Terhadap Pernyataan DR. Sanihu :

1. Menyoal tulisan Prof. DR. Barbara Thiering
Barbara Thiering adalah seorang wanita warga negara Australia yang berprofesi sebagai [pensiunan] pengajar di Sidney University Scholl of Divinity, 1967-1993. Selengkapnya biographi singkat beliau saya kutipkan dari http://www.westarinstitute.org sbb :
Karya :

  1. The Book That Jesus wrote-John’s Gospel, 1998
  2. Jesus of the Apocalypse, 1995
  3. Jesus the Man,The Riddle of the Dead Sea Scroll, 1992
  4. The Qumran Origins of the Christian Church, 1983
  5. The Gospels and Qumran, 1981
  6. Redating the Teacher of Righteousness, 1979
  7. Deliver Us from Eve, 1977
  8. Created Second ? Aspect of Women’s Liberation in Australia, 1973

Film Dokumenter :

  1. The Riddle of the Dead Sea Scrolls, Sydney, 1990
  2. Jesus the Man, 1993

Ijazah Akademik :

  1. B.A., Sydney University
  2. B.D., London University
  3. M.Th., Melbourne College of Divinity
  4. Ph.D., Sydney University

Akademik Appointments :

  • Lecturer, Sydney University Scholl of Divinity, 1967-1993

Pelayanan Proffesional

:

  1. Anggota dari the Equal Opportunity Tribunal of New South Wales, 1981-1993
  2. Penasihat Pelajar di Sydney University School of Divinity, 1980-1991
  3. Anggota dari Sydney University Board of Studies in Divinity, 1973-1991

DR. Jonathan Sarfati memberikan kritikan singkat dalam http://www.answeringenesis.org sbb :”Although her outlandish ideas have absolutely no support in the scholarly world. She is unique in dating the Dead Sea Scrolls to the time of Christianity, although radiocarbon and handwriting test put them into mostly in the 1st and 2nd centuries B.C….Thiering compounds the idiocy by claiming that the two thieves helped revive him. After suffering crucifixion and having their legs broken, they would be in need of medical attention themselves..”.

Singkatnya, DR. Jonathan Sarfati menolak pandangan Thiering yang sangat subyektif dan tidak di dukung oleh banyak sarjana Theologi. Thiering memaksakan bahwa naskah Qumran di Laut Mati ada hubungannya dengan kekristenan, meskipun angka tahun menunjukkan sekitar Abad 1-2 seb.Ms. Kekristenan mulai berkembang dan meluas sekitar tahun 31 Ms – .Dengan sangat keras Jonathan menyebut Thiering, “mengumpulkan kebodohannya” [compounds idiocy] dengan mengatakan bahwa dua penyamun di samping Yesus adalah yang menyelamatkan Yesus sehingga Yesus tidak mengalami kematian [selengkapnya lihat appendix b]

2. Menyoal argumentasi tidak orisinil DR. Sanihu Munir
Benarkah Yahshua menikah dengan Maria Magdalena ? bahkan melakukan poligami ? dan terlebih lagi memiliki anak bernama Yesus Yustus ?.
Siapapun orang Kristen yang terpelajar, akan mentertawakan argumentasi DR. Sanihu Munir yang meminjam istilah DR. Jonathan Sarfati, “compound idiocy”.Pemahaman DR. Sanihu tentang Sejarah gereja, Pergulatan dan Dinamika Doktrin Kristen, Sejarah Pembentukan Kitab Suci TaNaKh dan Besorah [Injil],Ilmu Hermeneutika, sangat kacau dan lebih banyak berkiblat pada teolog-teolog Kristen yang Liberal dan Sekular, dimana mereka memiliki asumsi dan epistemologi yang tidak sehat terhadap Kitab Suci.

a. Kesaksian Al Qur’an Qs 13:38 yang dirujuk sebagai dasar bahwa Isa memiliki istri, sangat lemah. Bagaimana mungkin Maryam adalah istrinya, sedangkan di 25 tempat, Isa di sebutkan sebagai Putra Maryam ?[Qs 2:87, Qs 2:253, Qs 3:45, Qs 4:157, Qs 5:17, Qs 5:46, Qs 5:78, Qs 5:110, Qs 5:112, Qs 5:114, Qs 5:116, Qs 9:31, Qs 9:34, Qs 23:50, Qs 33:7, Qs 43:57, Qs 57:27, Qs 61:6, Qs 61:14.. Qs 13:38 tidak menyebutkan secara khusus bahwa setiap nabi dan rasul memiliki istri. Demikian pula ayat tersebut tidak menyebutkan bahwa Isa beristri. Ayat tersebut nampaknya lebih memberikan informasi umum bahwa Tuhan memberikan bagi para nabi dan rasul, seorang istri masing-masing bagi mereka.

Geofrey Parrinder mengulas mengenai gelar “Anak Maryam”, sbb : “Dalam penggunaan gelar Anak Maryam itu, tak ada kritik sedikitpun dalam Qur’an, baik terhadap Maryam maupun Yesus…oleh karena itu, tak seorang Arab pun yang mengganggap anak Maryam sebagai penghinaan. Memanggil Yesus dengan memakai nama ibunya berarti bahwa, ibunya sangat terkenal ‘diantara para wanita dunia’, sehingga inilah gelar yang paling layak baginya” [Yesus Dalam Qur’an, Bintang Cemerlang, 2001, hal 23].

b. Maria atau Maria Magdalena ?
DR. Sanihu Munir mengacaukan Maria Magdalena sebagai ibu Yahshua [secara antropologis] dengan Maria saudara Marta saudara Lazarus.
Dalam Yohanes 12:1-8 di sebutkan bahwa enam hari sebelum Paskah, Yahshua berada di Betania di rumah Lazarus [ay 1]. Disitu diadakan perjamuan. Yahshua di jamu oleh Marta dan Lazarus [ay 2]. Maria, saudara Marta datang dan meminyaki kaki Yahshua dengan minyak narwastu [ay 3]. Yehuda Ishkhariot atau Yudas Iskariot mencela perilaku Maria. Celaan ini bukan karena ketulusan namun karena dia orang yang menyembunyikan sikap buruknya sebagai pencuri [ay 4-6]. Perilaku Maria ini di bela dan di puji oleh Yahshua, sebagai orang yang mengingat akan hari penguburan Yahshua setelah Dia mengalami penyaliban [ay 8]. INTI perikop ini bukan mengisahkan perkawinan melainkan perjamuan makan dimana Maria melakukan suatu sikap penghormatan namun sekaligus memberikan tanda-tanda yang akan terjadi pada diri Yahshua. Saat mati, Dia akan di olesi minyak dan rempah-rempah yang wangi [Luk 23:55-56a, Mrk 16:1]. DR. Sanihu gagal melihat INTI pesan dalam perikop ini.

Kegagalan yang sama terjadi dalam mengulas peristiwa yang terjadi dalam Markus 14:3-9. Inti peristiwa ini ada pada ayat 8, “Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah di minyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku”.

Demikian pula yang terjadi pada Lukas 7:36-50. Peristiwa yang sama namun terjadi di tempat lain. Inti dari perikop ini hendak menceritakan bahwa para murid yang mengklaim dekat dengan guru-Nya dan kedapatan tidak melakukan perbuatan a moral, namun tidak memberikan respon dan sambutan yang sebagaimana mestinya terhadap Yahshua [ay 41-46]. Perilaku wanita berdosa ini membersihkan dosanya, sehingga Yahshua mengatakan, “Dosanya yang banyak telah diampuni” [ay 47]. Dan Dia berkata pada wanita itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” [ay 50].

Yang lebih memprihatinkan adalah pendapat DR. Sanihu bahwa peristiwa perkawinan di Kana adalah peristiwa pernikahan antara Yahshua dengan Maria. Sungguh tafsiran yang dangkal!!.. Jelas-jelas di katakan dalam Yohanes 2:1-2, ada perkawinan di Kana, Galilea. Yahshua dan para murid-Nya, termasuk ibu-Nya adalah peserta undangan. Mereka bukan mempelai tetapi undangan. Yang mengherankan, DR. Sanihu menerjemahkan “Anggur” dalam Yohanes 2:1-11 dengan “Arak”. Padahal “Arak” adalah, “Minuman keras terbuat dari beras yang di fermentasikan” [Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press, hal 68]. Tradisi membuat dan meminum Arak, bukan berasal dari dunia Yahudi. Arak berbeda dengan Anggur.

c. Yesus Yustus
Tidak ada dasar bahwa Kitab Perjanjian Baru Kanonik mengisahkan bahwa Yahshua Yustus [Yesus Yustus] adalah anak Yahshua secara biologis. Informasi mengenai Yesus Yustus, tertulis dalam Kolose 4:10-11. Dalam ayat tersebut di jelaskan bahwa Yesus Yustus merupakan kawan pelayanan Paulus selain Markus keponakan Barnabas serta Aristarkhus. Tidak ada informasi lain mengenai Yesus Yustus.

Ilmu Hermeneutik yang tidak sehat, dari DR. Sanihu, terlihat ketika dia mengutip pendapat Barbara Thiering bahwa kalimat, “Firman Elohim makin tersebar..”[Kis 6:7], di tafsirkan sebagai lahirnya keturunan biologis Yahshua. Meskipun Yahshua di sebut sebagai Sang Firman, namun bukan berarti setiap kata Firman yang di tulis dalam naskah Perjanjian Baru, menunjuk pada-Nya. Jika cermat membaca Kisah Rasul 6:7, ayat tersebut hendak menegaskan bahwa ketika Kabar Baik [Injil] mengenai kehidupan, perkataan, ajaran, kuasa dan kematian serta kebangkitan Yahshua semakin tersebar luas, banyak orang menjadi percaya dan mengabdi sebagai murid, termasuk dari golongan imam.

d. Lydia
Lydia bukan istri kedua Yahshua, melainkan murid Yahshua yang hidup beberapa tahun setelah Yahshua mati dan bangkit serta naik ke sorga. Ia berprofesi sebagai pedagang kain ungu dari Tiatira [Kis 16:14] dan tertarik dengan pemberitan Paulus dan meminta Paulus dan teman-temannya singgah di rumahnya [ay 15].

e. Otentisitas dan Otoritas naskah Perjanjian Baru
Banyak kalangan Muslim yang tidak mempelajari sejarah pembentukan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan baik serta memiliki asumsi yang sehat. Di dorong oleh sejumlah penafsiran tertentu bahwa Torah dan Injil telah di rusakkan akidahnya, oleh orang Kristen, maka mereka berusaha untuk membuktikan pernyataan tersebut. Sejak Abad XIX, banyak cendekiawan Islam yang menggunakan analisis teolog-teolog Kristen yang bersikap Liberal dan anti hal-hal supranatural, untuk menyerang doktrin hitoris Kekristenan. Mereka mengutip karya David Strauss, Bultmann, dll. Mereka kurang memahami kedudukan Kitab Kanonik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta Kitab Apokripha. Mereka beranggapan bahwa Kitab Apokripha adalah bernilai historis melebihi Kitab kanonik dan sering memberikan penilaian dari sudut pandang Apokripha, Gnostik, sehingga menghasilkan pandangan yang miring tentang Doktrin Kekristenan.

Otentisitas dan Otoritas Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, telah teruji melalui sejarah yang panjang. Perbedaan-perbedaan varian di dalam naskah-naskah kuno, di biarkan menjadi suatu bahan studi kristis bagi para teolog [berbeda dengan langkah yang di lakukan Utsman saat mengkodifikasi Qur’an dan memusnahkan naskah-naskah Mas’us dan Ubai bin Ka’ab dll]. Hasil-hasil temuan naskah-naskah kuno yang beragam, akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, tergantung siapa yang menilai. Teolog-teolog yang memiliki asumsi teologis yang tidak sehat, akan memberikan kesimpulan yang berlawanan dengan para teolog yang menjunjung nilai historis dan teologis naskah-naskah kuno tersebut.. Buku-buku Barbara Thiering yang di kutip oleh Sanihu, bukan barang baru dalam perdebatan Teologia Kristen.Tulisan Barbara mereflesikan sikap berpikir Liberal yang meninggalkan azas-azas hermeneutika yang sehat. Sayangnya, DR. Sanihu begitu saja mengutip dan mendasarkan seluruh pendapatnya pada “Teori” dan “Rekonstruksi” Barbara, tanpa melihat kajian-kajian lain sebagai pembanding yang obyektif.

  • Mengenai otentisitas dan otoritas penyusunan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dapat membaca selengkapnya buku, F.F. Bruce, The Canon of Scripture, Intervasity Press Downers Grove, Illinois 60515 dan Josh Mc Dowell, Evidence That Demands a Verdict, Campus Crusade for Christ International, 1972.
  • Untuk pembahasan mengenai hakikat dan karya Yahshua, dapat di baca buku, “Bernard L. Ramm, An Evanggelical Christology : Ecumenic & Historic, Thomas Nelson Publishers, 1985.
  • Mengenai Kitab Apokriph dapat di baca selengkapnya buku, M.R. james, The Apocryphal New Testament, Oxford : The Clarendon Press, 1924 atau alamat situs berikut :
    1. http://www.bible_researcher.com,
    2. http://www.pseudoepigrapha.com
    3. http://www.st-andrews.ac.uk,
    4. http://www.christian-thinktank.com
    5. http://www.earlychristianwritings.com

Demikianlah Apologetik singkat terhadap penyiaran VCD berjudul, “Yesus ternyata Poligami” dengan narasumber utama, DR. Sanihu Munir. Kiranya tanggapan ilmiah ini dapat memberikan pencerahan dan perimbangan argumentasi.

by Teguh Hindarto, MTh

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: