//
you're reading...
Hukum

Kaffâra – penebusan dan penghapusan dosa

Baik Taurat, Zabur dan Injil, maupun Al Qur’an menyebutkan kaffâra, yang dapat diterjemahkan “penebusan”, “penghapusan dosa-dosa”, atau “penghapusan kesalahan”. Namun Taurat, Zabur dan Injil,  memberi penjelasan yang lebih lengkap. Al Qur’an menyebutkan janji-janji Allah akan kaffâra untuk umatNya tanpa menjelaskan cara mendapat kaffâra. Menurut Al Qur’an, Allah akan menebus manusia dari kejahatannya (“menghapus kesalahan-kesalahannya” Surah 65:5; “menghapuskan dosa-dosa mereka” 29:7; ” “penebus dosa” 5:45, “menutup/mengapus kesalahan-kesalahannya” 5:65, dlsb.), tetapi ada tersirat bahwa ini tergantung perbuatan baik amal dan syalat orang yang beriman. (Surah 11:114). Tetapi tidak ada cara orang mengetahui apakah dia sudah mendapat kaffâra. Menurut Al Qur’an:

“Ia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki, Ia menyiksa siapa yang Dia kehendaki.” (Surah 3:129; 11:118; 14:4; 16:93; 19:71,72). Ada juga suatu kepercayaan dalam agama Islam bahwa Allah menciptakan orang tertentu untuk masuk neraka dan orang lain untuk masuk sorga. Ada cerita bahwa Muhammad pernah berkata:

“Allah menciptakan Adam, lalu menjamah punggung Adam dengan tanganNya dan dari itu dihasilkan anak-anak, dan Dia berkata: `Aku menciptakan anak-anak ini untuk masuk sorga dan mereka akan melakukan perbuatan seperti orang yang akan masuk sorga.’ Lalu Ia menjamah punggung Adam dengan tanganNya dan dari itu dihasilkan anak-anak, dan Dia berkata: Aku menciptakan anak-anak ini untuk masuk neraka dan mereka akan melakukan perbuatan seperti orang yang akan masuk neraka.” (Mishkat Al-Masabih, Jilid. I, hlm.116.)

Pandangan Kaffâra menurut Alkitab Kristiani

Allah berkuasa melaksanakan apa saja yang dikehendakiNya, tetapi ia MahaAdil juga. Kalau ia mengampuni dosa manusia, pengampunan harus secara adil. Melalui Musa, Allah memerintah umat Israel untuk mempersembahakan binatang kepadaNya. Allah menerima persembahan ini karena melambangkan persembahan yang akan diberikan untuk seluruh umat manusia. Alkitab dengan sangat tegas menjelaskan bahwa Allah adalah MahaAdil, dan Ia akan menghukum orang berdosa. Hanya dua jalan keluar: mati selama-lamanya atau mendapat kaffâra.

Kebiasaan mendapat kaffâra melalui persembahan mulai dengan manusia pertama. Bila Adam dan Hawa melanggar hukum Allah, Allah “menutup” badan mereka yang telanjang dengan kulit binatang. Berarti binatang harus mati supaya kulitnya dapat dipakai untuk pakaian. Dengan demikian ini menggambarkan suatu ajaran tentang kaffâra. (Kitab Kejadian 4:4)

Allah menerima persembahan Habel, tetapi tidak menerima persembahan Kain. Bila kita menafsirkan cerita ini dalam Alkitab Kristiani maupun Al Qur’an, kita melihat bahwa anak-anak Adam diajar cara tertentu untuk mendekati Allah. (Kitab Kejadian 4:4; Surah 5:27-32). Mereka harus tahu bahwa akibat dosa adalah maut, tetapi suatu penebusan atau persembahan (fidyah) dapat menebus orang berdosa. Persembahan mungkin diartikan sebagai pengganti orang berdosa. Ini dilihat dalam contoh Ibrahim dan anaknya. (Kitab Kejadian 22:1-14).

Contoh lain adalah anak domba Paskah. Sesudah Allah menghukum Mesir dengan banyak tulah, Ia berfirman bahwa Ia akan membunuh semua anak sulung di negeri Mesir. Tetapi Ia menyuruh umat Israel untuk menyembelih seekor anak domba dan memercikkan darahnya pada tiang pintu. Malaikat Allah akan melewati setiap pintu yang sudah diperciki darah sehingga anak sulung dalam rumah itu akan selamat. Allah menggenapi janjiNya dan anak-anak sulung bangsa Yahudi diselamatkan (Keluaran 12:1-42).

Kaffâra dan Taurat

Menurut Taurat dalam kitab Imamat, Allah mewahyukan jalur yang tepat untuk mengenalnya yaitu melalui persembahan. SabdaNya, “Dosa hanya bisa diampuni kalau ada penumpahan darah” (Surat Ibrani 9:22; Kitab Imamat 17:11). Nabi Musa menjelaskan cara yang tepat untuk memberi persembahan: orang berdosa harus membawa binatang yang sempurna ke ambang pintu Bait Allah. Ia harus meletakkan tangannya di atasnya, sebagai lambang bahwa dosa-dosanya dipindahkan ke binatang tersebut. Lalu ia menyembelih binatang itu. Imam memercikkan sedikit dari darahnya di kaki mesbah dan mempersembahkan sisanya kepada Allah di atas mesbah. Allah menerima kematian binatang sebagai pengganti dari orang berdosa yang semestinya mati karena dosa-dosanya.

‘Isa: Zabih-ullah, persembahan Ilahi

Bagaimana mungkin binatang mati untuk manusia? Manusia jauh lebih berharga daripada binatang. Sebenarnya, binatang sendiri tidak mendapat kaffâra; binatang hanya melambangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Allah mengijinkan situasi tersebut sampai persembahan yang sempurna dapat dipersembahakan untuk dosa seluruh umat manusia, baik yang masih hidup, yang sudah meninggal, maupun yang belum lahir.

Sesudah nabi Musa, banyak nabi bernubuat tentang persembahan agung ini, salah satunya Yesaya. Nabi Yesaya menyampaikan suatu nubuat yang digenapi dengan tepat berabad-abad kemudian, yaitu ‘Isa yang menjalankan kehendak Allah. (Kitab Nabi Yesaya 52:12-15, 53:1-12).

Yahya (Pembaptis) bersaksi: “Lihat, itu Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (Injil Yahya 1:29). Banyak orang Muslim menolak bahwa ‘Isa Almasih adalah pengganti dosa-dosanya. Yusuf Ali, penterjemah dan penafsir Al Qur’an, memberi komentar, “Kita bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan kita sendiri. Kita tidak mungkin memindahkan akibat dari dosa kita kepada orang lain. Tidak mungkin orang lain dapat menggantikan kita sebagai cara mendapat kaffâra di atas dosa-dosa kita.” (Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Text, Translation and Commentary, hlm. 339).

Akan tetapi ini bertentangan dengan suatu nats Al Qur’an, dimana suatu kehidupan diganti untuk kehihidupan lain. Ibrahim bersedia mengorbankan anaknya (walaupun nama anaknya tidak disebutkan dalam Al Qur’an, kisah ini mirip sekali kisahnya dalam Taurat) Allah menyediakan korban persembahan pengganti anak tersebut. Lalu Allah bersabda tentang Ibrahim, ” Dan Kami tebus anak itu dengan korban yang besar” (Surah 37:107).

Penafsir Moslem biasanya mengartikan “korban yang besar” sebagai seekor kambing yang disediakan Allah untuk disembelih menggantikan anak Ibrahim. Tetapi apakah kambing boleh disebut “korban yang besar” dibanding anak Ibrahim? Perlu diperhatikan bahwa anak Ibrahimlah yang ditebus oleh kambing, bukan Ibrahim sendiri. Tetapi “korban yang besar” menjadi jalur Ibrahim mendapat penebusan. Korban yang mana? Jadi jelas harus ada korban yang lain yang disembahkan oleh Allah sendiri. Muncullah pertanyaan, “Apakah ini menunjukkan suatu Korban Agung di masa depan?”

Dalam Al Qur’an, peristiwa ini tidak dijelaskan secara mendetail, padahal dijelaskan panjang lebar dalam Taurat, Zabur dan Injil. Dalam Injil kita membaca tentang korban agung, yang diberikan oleh Allah sendiri untuk menebus baik Ibrahim maupun siapa saja yang punya iman sejati dan setia kepada ‘Isa Almasih, yang menjadi korban dan penebus untuk seluruh umat manusia. ‘Isa Almasih pernah berkata, “Bapamu Ibrahim senang sekali bahwa ia akan melihat hariKu. Ia sudah melihatnya dan ia senang.” (Injil Yahya 8:56). Sekali lagi ‘Isa membicarakan dirinya sendiri, dengan berkata bahwa ia ‘datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan menyerahkan nyawanya untuk menebus/membebaskan banyak orang’ (Injil Matius 20:28).

PENEBUSAN DOSA DALAM ALQURAN DAN HADIST

Ada 14 ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan penebusan. Sesuai dengan urutan pasalnya, kita temui pertama, Firman Allah: “Jika kamu lahirkan sedekah, maka itulah sebaik-baiknya, dan jika kamu sembunyikan dan kamu berikan kepada orang kafir, maka itulah yang lebih baik bagimu dan menutupi kesalahanmu, dan Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” (S.2 Al Baqarah 271).

Ahli tafsir menjelaskan penebusan sebagai satu penutupan atau tirai. Penjelasan mana mendekati keterangan Perjanjian Lama. Dalam Islam, amal seseorang seperti juga dalam Agama Yahudi, berperanan penting dalam soal penebusan. Dan usaha yang utama adalah doa. Seperti yang dikemukakan: “Dirikanlah shalat di waktu dua tepi siang (padi dan petang) dan sebagian dari pada malam (Magrib dan Isya). Sesungguhnya kebaikan menghapus kejahatan”(S.11 Hud 114).

Al Tirmidhi mengutip Abi Alyu berkata: “Suatu hari ada seorang wanita mendekati saya untuk berkencan. Saya memeluk dan menciumnya. Sesudah itu saya mendapatkan Muhammad dan menceritakan apa yang terjadi. Dia menundukkan kepala, setelah merenung sejenak Nabi berkata: “Dirikanlah shalat dua tepi siang (pagi dan petang) dan sebagian dari pada malam. Sesungguhnya kebaikan menghapus kejahatan.” Artinya, sembahyang lima waktu akan menghapus dosa dan menebus mereka. Kemudian seorang sahabatnya bertanya: “Ya, Nabi Allah, ‘apakah hal ini hanya dikhususkan bagi orang tersebut atau juga untuk semua orang?'” Jawab Nabi, “Untuk semua orang”.

Muslim menghubungkan apa yang dikemukakan oleh Abd Allah, “Seorang lelaki datang kepada Nabi berkata, ‘Yah, Nabi Allah, aku telah memegang seorang wanita di pinggir kota dan memuaskan nafsu tanpa melakukan persetubuhan. Sekarang saya menghadap, hukumlah saya seturut kehendakmu'”. Umar yang berdiri dekatnya berkata: “Allah akan tetap merahasiakan rahasiamu jika engkau merahasiakannya bagi dirimu sendiri”. Nabi Allah hanya berdiam diri. Ketika pria itu beranjak hendak pergi, Nabi memanggilnya dan mengucapkan lagi ayat ini ….”dirikanlah shalat…”. Muslim mengutip Abu Bakar, berkata: “Tidak seorangpun (sebagai hamba Allah) yang berdosa (melanggar) dan yang membersihkan dirinya (sesuai dengan ibadah Islam) dan kemudian bershalat dua kali dengan mengucapkan seluruh doanya dan mencari pengampunan dari Allah yang tidak akan diampuniNya.” Kemudian dia mengajikan: “Dan orang-orang, apabila mereka berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya mereka ingat akan Allah, lalu minta ampun atas dosanya itu. Dan tiadalah yang mengampuni dosa kecuali Allah. Mereka itu tiada berkekalan atas perbuatannya itu, sedang mereka mengetahui” (S.3 Ali Imran 135).

Tiada yang lebih jitu dalam soal penebusan dari Surat Al A’Raf 8-9; “Pada hari itu ada neraca yang berhak (adil).Barang siapa yang berat timbangan (pahala), merekaitulah orang menang. Barang siapa yang ringan timbangannya, mereka itulah orang yang merugikan dirinya, karena mereka aniaya terhadap ayat-ayat kami (membatahnya)”.

Imam Al Razi dalam penjelasannya mengenai timbangan perbuatan manusia, mengemukakan dua hal:

  1. Dikatakan bahwa Allah akan meletakkan satu timbangan dengan jarum penunjuk dan dua piring timbangan pada Hari Kebangkitan untuk menimbang semua perbuatan manusia, baik dan jahat. Hal mana sejalan dengan Ibnu Abbas yang berkata: “Pekerjaan orang beriman akan nampak dalam bentuk terbaiknya dan akan diletakkan pada timbangan, kebaikan akan mengalahkan perbuatan jahatnya.”

    Ada beberapa pendapat mengenai cara menimbang. Pertama, perbuatan orang beriman akan muncul dalam bentuk yang baik dan perbuatan orang yang tidak beriman, muncul dalam bentuk tidak terpuji. Dalam bentuk ini mereka ditimbang. Kedua, timbangan akan didasarkan pada catatan-catatan perbuatan manusia yang ada.

  2. Pandangan kedua diterima dari Mudjahid dan Al Sahhak dan Al A’mash mengatakan bahwa maksud penimbangan itu adalah keadilan dan penghukuman. Muhammad ketika ditanya mengenai soal timbangan pada Hari Kebangkitan itu, menjawab: “Buku catatan”.

Ada kisah menarik mengenai panjang jarum timbangan dan besarnya piringan timbangan itu. “Abdul Allah Ibnu Salam berkata, “Seandainya bumi dan langit diletakkan dalam piring timbangan maka tetap akan tidak tertampung, dan Jibrail yang memegangnya masih sanggup melihat jarum penunjuk.”

Dalam hal menimbang seperti dikemukakan “Abdul Allah, Ibnu Umar: “Nabi berkata, Pada Hari Kebangkitan manusia akan dibawa pada timbangan dan 99 kitab, panjang masing-masing sejauh mata memandang, dihadapkan kepadanya. Kitab yang berisikan semua dosa dan pelanggaran diletakkan pada piring timbangan, Kepadanya diberikan secarik kertas bertuliskan dua kalimat shyadat: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah NabiNya”, diletakkan pada piringan satunya dan akan mengalahkan perbuatan jahat. Ada ayat Al Qur’an yang berbunyi: “Kami letakkan neraca yang adil pada Hari Kiamat, maka tiadalah teraniaya seorang sedikitpun, Jika usahanya seberat biji sesawi, niscaya Kami hadirkan juga, Cukuplah Kami memperhitungkannya” (S.21 Al Anbiya 47).

Menurut pendapat beberapa penafsir, mungkin saja akan ada neraca yang menimbang keinginan hati sedangkan yang lainnya menimbang prilaku yang kelihatan. Al Fakhr Al Razi menghubungkan dengan kisah baru yang artinya: “Daud bertanya kepada Tuhannya agar diperlihatkan neraca itu. Waktu ia melihat neraca itu dia jatuh pingsan. Setelah siuman kembali dia berkata: “Yah, Allahku siapakah yang sanggup memenuhi timbangan itu dengan amal baik?’ Dia menjawab, ‘Hai Daud jika Aku berkenan dengan hambaKu maka Aku akan memenuhinya dengan buah (kemenangan)'”. Bilal bin Yahya mengutip Hudhayfa berkata: “Jibrail yang ada damai sejahtera, pada Hari Kebangkitan bertanggung jawab atas timbangan itu dan Allah akan berkata, ‘Hai Jibrail timbanglah mereka dan ganjarilah yang tertindas dan si penindas yang tidak beramal baik letakkan pada timbangan kejahatan sahabat-sahabatnya (yang tertindas), dan orang itu akan pergi dengan beban seberat gunung.” Abu Dja’far menghubungkan dengan yang dikatakan Muhammad: “Tidak ada yang diletakkan dalam neraca yang melebihi keagungan prilaku”.

Akhirnya dapat saya simpulkan pandangan-pandangan ini dengan kata Muhammad bin Sa’d yang mengutip Ibnu Abbas, “Barang siapa yang telah melingkari perbuatan jahatnya dengan amal baik maka timbangannya akan menjadi berat. Amal baik akan menghapus perbuatan jahatnya. Dan barang siapa melingkari amal baik itu dengan perbuatan jahat maka timbangannya akan ringan dan dia adalah anak neraka. Perbuatan jahatnya menghapus amal baiknya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Di hari kiamat kelak, sekelompok dari kaum muslimin akan datang membawa dosa mereka sebesar gunung. Lalu Allah mengampuni dosa-dosanya, kemudian dibebankan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan nasrani. (Itu menurut perkiraanku). Rauh berkata; ‘aku tidak tahu dari siapa keraguan ini.’ Abu Burdah berkata; Maka hal ini aku ceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz. Lalu dia bertanya; ‘Apakah Bapakmu menceritakan hal ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? aku menjawab; ‘Ya.’ (HR Muslim 4971) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal kecuali Allah akan memasukkan (memperlihatkan) ke dalam tempatnya neraka Yahudi atau Nashrani.” (HR Muslim 4970) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “TIDAKLAH SEORANG MUKMIN MENINGGAL KECUALI ALLAH ‘AZZA WAJALLA AKAN MENGGANTIKAN TEMPATNYA DI NERAKA DENGAN ORANG YAHUDI DAN NASRANI.” (HR Ahmad 18666) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kecuali Allah ‘azza wajalla akan menggantingan tempatnya di neraka dengan seorang Yahudi atau Nasrani.” (HR Ahmad 18739) 

Dari semua hadits tersebut kita bisa membuat kesimpulan apa yang dimaksud dengan istilah ‘penebus’ dosa tersebut : 

1. Adalah dosa-dosa seorang Muslim yang diampuni Allah lalu dipindahkan kepada Yahudi dan Nasrani yang kafir. 
2. Muslim diperlihatkan neraka yang seharusnya menjadi tempatnya karena telah berdosa namun tempat tersebut diganti oleh Yahudi dan Nasrani. 

Ini terkait dengan ayat Al-Qur’an : 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (Al-Mukminuun 1)…Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Mukminuun 10-11)

 

PENEBUSAN DOSA DALAM TRADISI YAHUDI

manusia dilahirkan sebagai makhluk yang lemah, diakui sendiri oleh Al-Qur’an: Wa khuliqa al-Insanu dhaifân. Artinya : “Diciptakanlah Manusia sebagai makhluk yang lemah“ (Qs. an-Nisa’/4:28). Dan seperti diakui oleh Rasul Paulus bahwa ada suatu rangsangan dalam jiwa manusia yang cenderung berbuat kejahatan (Roma 7:21), Al-Qur’an sxendiri menyaksikan: Inna an-Nafsa la-ammâratu bissu’i. Artinya: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”( Q.s. Yusuf/12:53). Karena itu, menurut Nurcholish Madjid, Islam juga mengakui adanya kejatuhan (Arab: hubuth) Adam dari surga, namun tidak menjadikan pangkal pokok dalam sistem teologinya. Jadi, ide penebusan tidak berasal dari ritus pagan, melainkan berasal dari ritus-ritus yang jelas-jelas tercantum dalam Taurat, Mazmur (Zabur) dan Kitab Nabi-nabi sebelum zaman Yesus.

Dalam Perjanjian Lama dikenal ritus Yom Kippur (Hari penebusan Dosa). Nah, dari  latar belakang yang sama, khususnya dari upacara Yom Kippur, kita dapat mengerti alam pikiran yang melatarbelakangi ide “penebusan dosa” (kaffarat) dalam Perjanjian Baru. Memang latar belakang lain, soal “denda tebusan” atau dalam bahasa Yunani: lutron, juga berperan,tetapi sebatas pada formulasi, bukan pad aide dasarnya. Ide dasarnya jelas-jelas berasal dari Kitab Taurat dan kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Misalnya, apabila seekor lembu menanduk orang sampai mati, lembu itu harus dirajam sampai mati dan pemiliknya bebas. Tetapi apabila pemiliknya sudah sering diperingatkan tentang bahayanya lembu itu tetapi tidak menjaganya, apabila lembu itu menanduk orang sampai mati lagi, maka bukan hanya lembunya, melainkan pemiliknya juga harus dihukum mati. Ia bisa dibebaskan dengan cara membayar uang tebusan (koper) sebagai ganti atau tebusan nyawanya (Keluaran 21:28-30).

Inti dari ketentuan ini adalah “hukum balasan setimpal yang adil”, tapi lebih dari itu adalah ditekankan pengampunan (Keluaran 21:23-27; Immamat 19:17-18). Asas pembalasan setimpal itu (Arab: Qishash) disebutkan Taurat, dalam teks bahasa aslinya: We natattah nefes tahat nefes, ‘ayin tahat’ ayin syen tahat shen. Artinya: “Dan engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Keluaran 21:23-24). Tetapi pada saat yang sama ditekankan supaya berdasarkan kasih, setiap orang tidak menuntut balas (Imamat 19:17-18). Asas tersebut hampir secara harfiah diterima dalam sistem hukum Islam, seperti disebut dalam Al-Qur’an: Wa katabnâ ‘alaihim fîha annan nafsa bi an-nafsi, wa  al-‘aina bi al-‘aini, wa al-anfa bi al-anfi,  wa al-udzuna bi al-udzuni, wassina bi ssini, wa al-jurûha qishâsh faman tashsddaqa bihi fahuwa kaffâratulahu. Artinya: “Dan telah Kami tetapkan kepada mereka dalam Taurat bahwa nyawa dibalas nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka pun dibalas dengan setimpal. Namun barang siapa rela melepaskan hak balasnya, maka perbuatan itu menjadi  kaffarat (penebus dosa) dosa baginya” (Qs. al-Maidah/5: 45).

Mengenai perbuatan tidak sengaja yang menyebabkan kematian, seperti tampak pada kasus lembu yang menanduk mati tersebut, pada pokoknya ada kewajiban memberikan tebusan (Ibrani: kofer, Arab: kaffarat). Sistem kaffarat ini sangat lazim juga dikenal bahkan cukup berkembang dalam fiqh Islam. Misalnya, mengenai kaffarat membunuh secara tidak sengaja orang Islam ialah memer-dekakan hamba mukmin, atau berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tanda pertobatan kepada Allah (Q.s. an-Nisa’ 4:92).  Dalam bidang ibadah, orang yang melanggar larangan ber-jima’ (bersetubuh) suami isteri di bulan suci Ramadhan, kaffarat-nya ialah puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. Dalam Yudaisme zaman Alkitab, selain dikenal ide penebusan dalam sistem hukum mereka, secara khusus cukup berkembang pula dalam pandangan teologisnya. Perkembangan Yudaisme belakangan, khususnya setelah kehancuran Bait Allah tahun 70 Masehi mulai menghilangkan kurban sembelihan, mengakibatkan teolog-teolog Yahudi kini mengecilkan arti dosa. Memang benar manusia dilahirkan dalam “kondisi yang dirangsang dosa” (yetser ha Ra’), tetapi hal itu diimbangi oleh “keinsafan batin yang baik” (yetser ha Tov) sama bobotnya, yang apabila ditopang dengan pembacaan Taurat akan lebih unggul. Tekanan pada Hukum Taurat makin berlebih-lebihan sebagai reaksi dari semakin pesatnya perkembangan kekristenan waktu itu.

Karena itu dikenal perayaan khusus untuk penebusan, Yom Kippur (hari penebusan dosa) yang terkait dengan adanya kurban darah. Alasannya, karena nyawa makhluk ada dalam darahnya, karena itu darah mengadakan penebusan dengan perantaraan makhluk hidup (Imamat 17:11). Bahkan, Tuhan (YAHWEH) sendiri disebut “Sang Penebus” (Ibrani: go’el) dalam Kitab Taurat, Mazmur (Zabur) dan Nabi-nabi (Ulangan 7:8; 24:18; Mazmur 107: 2; Yesaya 48:20). Jadi, Islam juga mengenal sistem penebusan dalam hukumnya, tetapi tidak mengembangkannya dalam teologinya. Jadi, ide kaffarat dalam hukum Islam ini, mes-tinya dapat menjembatani doktrin Kristen tentang penebusan. Dalam hukum Yahudi maupun Islam tersebut, pembayaran suatu harga untuk pembebasan adalah hak asasi yang didasarkan atas prinsip keadilan. Karena itu, berangkat dari segi antropologis bahwa kealpaan, kelalaian dan kesalahan itu bukan sekedar bersifat kasuistik melainkan berakar dari sifat kodrati manusia, maka logis dan rasional apabila ide kaffarat bukan hanya diterapkan di dalam bidang hukum, tetapi juga menjadi tema sentral dalam teologi Kristen.

Berangkat dari kenyataan bahwa kelemahan itu inherent selalu melekat pada kodrat manusia, konsep penebusan ini begitu bermanfaat, bahkan menjadi satu-satunya jalan keluar yang paling logis. Dalam gereja mula-mula, tentu saja perumusannya antara lain tidak lepas dari metafor-metafor yuridis tersebut. Orang berdosa adalah budak dari dosa (Yohanes 8:34), secara kodrati manusia “bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Roma 7:14). Dari sudut pandang yuridis, Hukum Taurat menentukan bahwa orang-orang berdosa harus mati. Untuk itu harus ada ”tebusan” (Ibrani : kopper, Arab : kaffarat)  sebagai harga yang harus dibayar untuk hak hidup yang sebenarnya sudah tidak ada, yang bagi iman Kristen seluruhnya telah menjadi final sudah kurban agung Kristus, sekali untuk selama-lamanya (Ibrani 10: 12). Jadi, Islam mengenal konsep penebusan dalam sistem hukumnya, tetapi menolak ide tersebut diterapkan dalam pandangan teologisnya.  Semoga penjelasan ini bisa membantu.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: